BAB I
PENDAHULUAN
1.1.Latar
Belakang
Perubahan
Fisik yang semakin menua akan sangat berpengaruh terhadap peran dan hubungan
dirinya dengan lingkunganya. Perubahan intelektual, pada umumnya orang percaya
bahwa proses belajar, memori, dan intelegensi mengalami kemerosotan bersamaan
dengan terus bertambahnya usia Kecepatan dalam memproses informasi mengalami
penurunan pada masa dewasa akhir. Selain itu, orang-orang dewasa lanjut kurang
mampu mengeluarkan kembali informasi yang telah disimpan dalam ingatannya. Kecepatan
memproses informasi secara pelan-pelan memang akan mengalami penurunan pada
masa dewasa akhir.
Dengan
adanya perubahan ini, maka terkadang membuat orang-orang yang telah masuk dalam
fase ini menjadi menarik diri dari lingkungannya.
1.2 Rumusan Masalah
1. Bagaimana Perkembangan Fisik Usia
Akhir?
2. Bagaimana Perkembangan Kognitif
Usia Akhir?
3. Bagaimana Perkembangan
Psikososial Usia Akhir?
1.3 Tujuan Masalah
1. Mengetahui Perkembangan Fisik
Usia Akhir
2. Mengetahui Perkembangan Kognitif
Usia Akhir
3. Mengetahui Perkembangan
Psikososial Usia Akhir
BAB
II
PEMBAHASAN
2.1 PERKEMBANGAN FISIK
Pada saat ini, ilmuan sosial yang mengkhususkan diri
mempelajari penuan merujuk kepada tiga kelompok lansia:”lansia muda”(young
old), usia antara 65-74 tahun. “Lansia tua”(old old) berusia antara 75-84. Dan
“lansia tertua”(oldest old) berusia 85 tahun keatas.
Akan tetapi, kalasifikasi yang lebih berguna adalah
usia fungsional: sebarapa baik seseorang berfungsi dalam lingkungan fisik dan
sosial dibandingkan dengan orang lain yang seusianya. Seorang berusia 90 tahun
yang tetap berasa dalam kesehatan yang prima bisa jadi berfungsi lebih muda
dibandingkan oarang berusia 65 tahun yang tidak sehat.
1.
Usia dan Penuaan
Harapan hidup telah meningkat secara dramatis.
Semakin lama orang hidup, semakin panjang meraka berkeinginan untuk hidup. Harapan hidup : Usia dimana seseorang dalam waktu tertentu biasanya hidup (dengan mempertimbangkan usia &
status kesehatannya pada saat ini ), berdasarkan usia rata – rata populasi.
Usia : Panjang kehidupan seseorang, dan Rentang
usia : Periode terpanjang suatu
spesies dapat hidup
a) Tren dan Faktor dalam Harapan Hidup
Perbedaan
Regional dan Etnis : Rata-rata seseorang yang lahir di negara maju dapat berharap untuk hidup tiga belas tahun lebih lama dibandingkan orang yang lahir di negara berkembang.
Akan tetapi, harapan hidup bervariasi secara lebih luas dalam beberapa negara.
Perbedaan
Gender : Hampir di seluruh dunia,
wanita hidup lebih lama dibandingkan pria, walaupun terdapat pengecualian di
negara berkembang dimana para anak perempuan dan wanita menghadapi diskriminasi
yang parah (
Kinsella & Velkoff, 2001 ). Lebih panjangnya usia
wanita diakaitkan kepada beberapa faktor, kencendrunag mereka yang lebih besar
dalam mengurusi diri sendiri dan untuk mencari perawatan medis, tingkat
dukungan sosial yang mereka nikmati lebih besar, dan lebih besarnya kerapuhan
biologis pada pria.
b) Mengapa
Orang – Orang Menjadi Tua ?
|
Tabel 1.2 Teori penuaan Biologis
|
|
|
Teori pemrograman genetik
|
Teori peringkat variabel
|
|
Teori senescene terprogram :
Penuaan merupakan hasil pertukaran berurutan
pada gen tertentu. Senescene merupakan waktu ketika penurunan yang berkaitan dengan penuaan menjadi
|
Teori wear and tear : Sel dan jaringan memiliki bagian vital yg akan
rusak.
|
|
Teori Endokrin : Jam biologis bertindak melalui hormon untuk mengontrol
dimensi penuaan.
|
Teori radikal bebas : Akumulasi kerusakan dari radikal oksigen
menyebabkan sel dan organ untuk berhenti berfungsi.
|
|
Teori Imunologis : Penuaan terprogram dalam sistem imun tubuh yang menjurus kepada peningkatan kerapuhan terhadap penyakit menular & kemudian kepada penuaan dan kematian.
|
Teori peringkat kehidupan : semakin besar tingkat metabolisme, semakin
pendek usianya.
|
|
|
Teori autoimun : Sistem imun menjadi bingung & menyerang sel tubuh
sendiri.
|
2.
Perubahan Fisik
Kulit
mereka yang sudah menua menjadi memucat dan kurang elastis, dan seiring dengan
mengkerutnya lemak dan otot, kulit tersebut bisa jadi mengkerut. Pembengkakan
pembuluh darah dikaki menjadi hal yang umum. Rambut dikepala menjadi putih dan
menjadi semakin tipis, dan rambut menjadi semakin jarang.
Orang
dewasa yang lebih tua menjadi lebih pendek seiring dengan melemahnya tulang vertebrae, dan postur bungkuk manjadikan
mereka semakin kecil. Penipisan tulangdapat menyebabkan “dowager hump” pada belakang leher, terutama bagi wanita dengan
osteoporosis. Selain itu, komposisi kimia tulang juga berubah, menciptakan
resiko keretakan yang lebih besar.
a)
Perubahan Organis dan Sistematis
Perubahan dalam fungsi organis dan sistematis sangat bervariasi,
baik diantara maupun didalam individu. Sebagian sistem tubuh dan keberfungsian organ menurun, sedangkan sebagian yang lain tetap sebagaimana adanya,
Akan tetapi jantung menjadi sensitif terhadap penyakit dan kemampuan
pencadangan(reserve capicity) menurun.
b)
Penuaan Otak
Pada lansia normal
dan sehat, perubahan pada otak biasanya bersifat rendah dan hanya membuat
sedikit perbedaan ( kemper, 1994 ). Setelah usia 30 tahun, otak kehilangan
beratnya, pertama- tama sedikit, kemudian menjadi lebih cepat. Sehingga, pada
usia 90 tahun, otak kehilangan 10 % dari beratnya.
c)
Fungsi Sensoris dan Psikomotoris
Penglihatan : Banyak lansia yg kesulitan melihat warna atau
melakukan aktivitas sehari- hari seperti membaca, menjahit, berbelanja, dan
memasak. Sebagian besar kerusakan penglihatan ( termasuk kebutaan ) disebabkan
oleh katarak, degenerasi moskular yang berhubungan dengan usia, glaukoma, dan retinopathy diabetes ( komplikasi
diabetes yang
tidak berkaitan dengan usia ).
Pendengaran : 40 % lansia menderita kehilangan pendengaran,
sering kali disebabkan oleh pres- bycusis, penurunan dalam kemampuan mendengarkan suara bernada tinggi yang berkaitan dengan usia ( O’Neill et al., 1999).
Rasa
dan Bau : Kehilangan kedua indra
ini dapat merupakan bagian normal dari penuaan, tetapi juga dapat disebabkan oleh berbagai jenis penyakit dan obat-
obatan, pembedahan, atau keterpaparan terhadap materi beracun di lingkungan. Selain itu dapat disebabkan juga oleh olfactory bulb, organ di
otak yang
bertanggung jawab terhadap penciuman dan perasa yang rusak.
Kekuatan, Daya
Tahan, Keseimbangan, dan Waktu Bereaksi
: Lansia memiliki kekuatan yang jauh berkurang dari yang pernah mereka miliki
dan lebih terbatas kemampuannya dalam aktivitas yang mensyaratkan daya tahan
atau kemampuan membawa beban berat.
d)
Fungsi Seksual
Seks pada masa dewasa akhir berbeda dengan apa yang ada pada masa yang lebih muda. Pria biasanya membutuhkan waktu lebih lama untuk ereksi dan ejakulasi.
Basahmya payudara wanita dan sinyal gairah seksual menjadi kurang intens
dibandingkan sebelumnya. Vagina menjadi kurang fleksibel dan mungkin
membutuhkan pelumas buatan.
3.
Kesehatan Fisik dan Mental
a)
Status sehat dan perawatan kesehatan
Sebagian
besar orang tua sehat, terutama jika mereka mengikuti gaya hidup yang sehat.
Sebagian besar memang memillki kondisi kronis dan Ketidakberdayaan Fisik biasanya memiliki satu atau lebih kondisi kronis
maupun ketidakberdayaan fisik,
akan tetapi hal ini tidak amat membatasi aktivitas atau menggangu rutinitas
keseharian. Jumlah lansia dengan ketidakberdayaan fisik telah menurun. Walaupun
demikian, lansia membutuhkan lebih banyak perwatan medis dibandingkan yang
lebih muda.
b)
Pengaruh pada kesehatan
Aktivitas Fisik.
Program olahraga jangka panjang bisa mencegah banyak perubahan fisik yang diasosiasikan dengan penuaan yang normal. Latihan reguler dapat menguatkan jantung & paru – paru serta
menurunkan stres.
Nutrisi.
Nutrisi berperan dalam
proses kerapuhan terhadap penyakit kronis seperti atherosclerosis, jantung, dan
diabetes ( Mohs, 1994 ). Memakan buah & sayur – sayuran, terutama yg kaya
dg vitamin C seperti buah jeruk dan jus, sayuran berdaun hijau, brokoli, kubis
menurunkan resiko stoke ( Joshipura at al., 1999 ). Kekurangan Vitamin D
meningkatkan resiko patah pinggul ( LeBoff et al., 1999 )
c)
Masalah mental dan prilaku
Sebagian
besar lansia barada dalam kesehatan mental yang baik. Walaupun demikian,
gangguan mental dan prilaku yang memang terjadi pada masa tua dapat
manghancurakn.
›
Demensia(kepikunan).
Istilah penurunan prilaku dan kognitif yang secara psikologis dapat memengaruhi kehidupan sehari-hari.
›
Alzheimer.
Gangguan otak yang bersifat degeneratif dan progresif, yang ditandai dengan
penurunan kognitif dan kehilangan kontrol fungsi tubuh, bermuara pada kematian.
›
Prakinson.
Degenerasi neurologis progresif, ditandai dengan gemetar, kekuan gerakan yang
melambat, dan postur yang tidak stabil.
›
Depresi.
Akibat dari pengaruh interaksi berbagai gen dengan faktor
lingkungan(NIMH,1999b). Seperti kurang berolahraga. Peristiwa yang menekan,
kesendirian, dan penggunaan pengobatan tertentu dapat memicunya. Jaringan
keluarga dan teman yang kuat dapat membantu orang yang lebih tua menghilangkan
depresi atau menghadapinya.
2.1
PERKEMBANGAN
KOGNITIF
1)
Beberapa aspek perkembangan kognitif
a)
Kecerdasan dan Kemampuan Memproses
Ø Mengukur kecerdasan lansia.
Mengukur kecerdasan lansia merupakan hal yang kompleks. Sejumlah faktor fisik dan psikologis dapat menurunkan nilai kecerdasan dan mengarah kepada kesalahan penilaian atas kecerdasan mereka. Untuk mengukur kecerdasan lansia, para periset
seringkali menggunakan tes Wechsler Adult Intelligence Scale ( WAIS ).
›
Model dual proses : Model fungsi kognitif
yang dikemukakan oleh Baltes, yang mengidentifikasi dan mencoba mengukur dua dimensi
kecerdasan, yakni mekanis dan pragmatis.
Mekanika kecerdasan : Pada model dual proses
Baltes, istilah ini berarti kemampuan memproses informasi dan memecahkan
masalah, terlepas dari isi, dapat pula berarti area kognisi dimana kerap terjadi
penurunan yang
berkaitan dengan
usia.
Pragmatis Kecerdasan : Dalam model dual proses
Baltes, kalimat ini berarti dimensi kecerdasan yang cenderung tumbuh seiring dengan bertambahnya usia dan mencakup pemikiran praktis,
aplikasi dari pengetahuan & keterampilan yang terakumulasi, kekhususan, produktivitas profesional,
dan kebijaksanaan.
Optimasi selektif terhadap kompetensi : Dalam model
dual proses Baltes, strategi untuk memelihara atau meningkatkan keseluruhan fungsi
kognitif dengan
menggunakan kekuatan yang lebih kuat untuk mengkompensasi yang melemah.
Ø Perubahan dalam Kemampuan Memproses :
Penurunan menyeluruh pada fungsi sistem saraf pusat, sebagaimana yang diukur
melalui waktu reaksi, secar luas dipercaya sebagai kontributor utama perubahan
dalam kemampuan kognitif dan efisiensi dalam pemprosesan informasi. Kemampuan yang digunakan untuk belajar dan menguasai keterangan
baru cenderung menurun pada lansia.
Ø Kompetensi dalam Tugas Sehari- hari dan Pemecahan
Masalah : Ketika orang menjadi tua, tes penting kompetensi kognitifnya adalah kemampuan untuk hidup independen, sebagaimana yang diukur oleh tujuh aktivitas instrumental hidup
sehari- hari ( IADLs ) : mengatur keuangan, berbelanja kebutuhan pokok,
menggunakan telepon, mendapatkan transportasi, mempersiapkan makan, berobat, dan mengurus rumah.
b)
Memori : Bagaimana Perubahannya?
Memori Jangka Pendek
§ Memori sensoris : Penyimpanan awal, singkat, dan
temporer informasi sensoris.
§ Memori kerja : Penyimpanan jangka pendek informasi yang sedang diproses secara aktif.
Memori Jangka Panjang
›
Memori episodik : Memori jangka panjang pengalaman/ peristiwa tertantu, dihubungkan kepada waktu dan tempat.
›
Memori semantis : Memori jangka panjang pengalaman faktual umum, adat
istiadat, dan bahasa.
›
Memori prosedural : Memori jangka panjang keteranagn
Motor, kebiasaan, dan cara melakukan sesuatu yang kerap dapat dipanggil kembali tanpa usaha yang disengaja, terkadang disebut memori implisit.
›
Priming : Peningkatan kemudahan dalam melakukan suatu tugas atau mengingat informasi sebagai hasil dari interaksi sebelumnya dengan tugas atau informasi tersebut.
Mengapa Beberapa Aspek Memori Menurun ?
à Masalah pada Encoding, Storage, dan Retrieval : Lansia
cenderung kurang efisien dan akurat dalam meng- encode informasi baru yang
mudah diingat, menyimpan, dan mengulang kembali.
à Perubahan Neurologis:
›
Hipocampus : penting dalam kemampuan menyimpan informasi baru dalam memori jangka panjang, diperkirakan kehilangan 20 %
sel sarafnya pada usia senja.
›
Daerah di kiri prefrontal cortex tampaknya mempengaruhi kemampuan
lansia dlm mengingat dan mengenali. Penurunan pada prefrontal cortex bisa
menyebabkan masalah memori umum lansia seperti lupa memenuhi janji dan
menyangka peristiwa yang dibayangkan sebagai benar – benar terjadi.
c)
Metamemori : Pandangan dari Dalam
Metamemory in Adulthood ( MIA ) : Kuesioner yang didesain mengukur berbagai aspek metamemori orang dewasa, termasuk keyakinan akan memori mereka sendiri dan seleksi serta penggunaan strategi untuk
mengingat.
Meningkatkan Memori pada Lansia. Beberapa peneliti
telah menawarkan program pelatihan mnemonics : yaitu teknik yang di desain untuk membantu orang mengingat, membuat asosiasi antara wajah dan nama,
atau mentrasformasikan berbagai elemen cerita ke dalam citra mental.
d)
Kebijaksanaan
Erickson memandang kebijaksanaan sebagai sebuah aspek perkembangan kepribadian di masa senja.
Penyelidik lain mendefinisikan kebijaksanaan sbg perluasan pemikiran postformal,
yakni sintesis penalaran dan emosi.
Kualitas seperti sikap terbuka terhadap pengalaman,
kreativitas, pemikiran refleksif, dan penalaran moral nampaknya amat
mempengaruhi perkembangan kebijaksanaan ( Pasupathi et al., 2001).
Temuan utama dalam sebuah riset adalah bahwa kebijaksanaan umumnya dimiliki oleh orang –
orang tua, walaupun tidak
secara eksklusif hanya
2)
Belajar seumur hidup
Belajar
seumur hidup dapat membuat lansia tetap membuat lansia tetap mawas sercara
mental. Program pendidikan bagi lansia meningkat dengan pesat. Sebagian besar
program ini memilki fokus sosial praktis atau pendidikan yang lebih serius. Lansia
belajar dengan lebih baik ketika materi dan metode disesuaikan dengan kebutuhan
kelompok usia ini.
2.3 PERKEMBANGAN PSIKOSOSIAL
1) Teori dan riset terhadap perkembangan
psikososial
v Stabilitas Kualitas Kepribadian
Meskipun beberapa riset telah menemukan perubahan usia
senja dlm beberapa dimensi tertentu dari “ lima besar “ kepribadian, seperti peningkatan
persetujuan dan menurunnya ekstraversi telah menunjukkan kasus yang mengesankan tentang stabilitas esensial kualitas kepribadian. Pola
kualitas tertentu yang terus ada memberikan kontribusi terhadap kemampuan
beradaptasi denga penuaan dan dapat memprediksikan kesehatan dan usia.
v Isu dan Tugas Normatif
Bagi Erickson, potensi puncak masa dewasa akhir adalah perasaan akan adanya integritas ego ( ego
integrity ), atau integritas diri , pencapaian yang didasarkan pada refleksi akan kehidupan seseorang.
Integritas ego Vs Keputusasaan : Menurut Erickson,
tahap kedelapan dan akhir perkembangan psikososial, di mana orang – orang pada masa dewasa akhir mencapai perasaan integritas diri dengan menerima hidup yang pernah mereka jalani, dan karena itu menerima kematian, atau
berujung kepada keputusasaan bahwa hidup mereka tidak dapat diulang kembali.
Erikson meyakini bahwa walaupun fungsi tubuh melemah,
orang harus
mempertahankan “ keterlibatan vital “ dalam masyarakat.
v Model Coping
Coping ( penanganan masalah ) adalah pemikiran atau perilaku adaptif dalam mengurangi atau meringankan stres yang bersumber dari kondisi yg menyakitkan, berbahaya,
atau menantang. Coping merupakan aspek penting dalam kesehatan mental.
a.
Berbagai Faktor dalam Kesehatan Emosional : George
Vailliant. Menurut tiga
studi prospektif 50 tahun kehidupan, faktor prediktif paling penting adalah penggunaan pertahanan adaptif ( adaptive defenses )
yang sudah
matang seperti mementingkan kepentingan
org lain, menahan diri, antisipasi ( merencanakan masa depan ), dan sublimasi (
menyaring inti hidup ) dalam menghadapi berbagai masalah.
b.
Model Penilaian Kognitif : Model penanganan masalah ( coping ) yg dikemukakan
oleh Lazarus dan Folkman yg menyatakan bahwa berdasarkan penilaian
berkesinambungan dlm hubungan mereka dengan lingkungan orang-orang memilih strategi penanganan masalah yang tepat untuk menghadapi situasi yang memotong sumber daya mereka.
Coping berfokus pada masalah : Dlm model ini strategi penanganan masalah
ditujukan langsung untuk bertujuan menghilangkan, mengatur, atau meningkatkan kondisi yg
menekan.
Coping berfokus pada emosi : Dlm model penanganan masalah berfokus pada penilaian kognitif, strategi coping diarahkan kepada pengaturan respons emosional terhadap situasi yang menekan untuk mengurangi pengaruh fisik atau psikologisnya ;
terkadang disebut pallative coping.
c. Agama dan
Kebahagiaan di Akhir Usia
Agama tampaknya memainkan peran pendukung bagi banyak
lansia. Kemungkinan penjelasan bagi hal ini antara lain dukungan sosial,
keinginan akan gaya hidup yg sehat, persepsi ttg kontrol trhdp hidup mrk melalui
do’a, mendorong kondisi emosi positif, penurun stres, dan keimanan terhadap
Tuhan sbg cara menafsirkan kesialan ( Seybold & Hill, 2001 ).
Keterlibatan religiusitas tampak memiliki pengaruh
positif pd kesehatan mental scr fisik dan usia ( Ellison & Levin, 1998;
Koenig, George, & Peterson, 1998 ). Penelisikan terhadap riset ini
menemukan asosiasi positif antara religiusitas atau spiritualitas dan
kebahagiaan, kepuasan mental, fungsi psikologis, dan asosiasi negatif dg bunuh
diri, pembangkangan, kriminalitas, dan penyalahgunaan obat serta minuman keras
( Seybold & Hill, 2001 ).
Orang – orang dg komitmen religius yg tinggi cenderung
memiliki kepercayaan diri yg tinggi ( Krause, 1995 ).
v Model Penuaan “ Sukses “ atau “ Optimal “
Teori Penarikan Diri : Teori penuaan yg diungkapkan oleh Cumming dan Henry
yg menyatakan bahwa penuaan yg sukses ditandai dg penarikan diri mutual antara
lansia dan masyarakat.
Teori Aktivasi :
Teori penuaan yg dipopulerkan oleh Neugarten dan yg lain, yg menyatakan bahwa u
menua dg sukses sso harus tetap aktif.
Teori Kontinuitas : Teori penuaan yg disodorkan oleh Atchley, yg menyatakan bahwa u menua
dg sukses sso harus mempertahankan keseimbangan kontinuitas dan perubahan dlm
struktur internal dan eksternal kehidupan mereka.
o
Peran Produktivitas : Sebagian ahli riset berfokus pada aktivitas produktif, berbayar atau sukarela, sebagai kunsci untuk menjalani penuaan dengan baik.
o
Optimasi Selektif dengan Kompensasi
: Penuaan yang sukses tergantung kepada kepemilikan tujuan yang memandu perkembangan dan sumber daya untuk
menjadikan tujuan tersebut berpotensi untuk diraih. Pada masa tua bahkan sepanjang usia, kata
peneliti hal ini terjadi melalui optimasi selektif dengan kompensasi.
2.
Gaya Hidup Dan Isu Sosial Yang Berkaitan Dengan Usia
v Tren dalam Pekerjaan di Usia
Lanjut dan Pensiun:
Sebagian besar orang dewasa yang dapat pensiun, melakukannya dan seiring dengan semakin panjang usianya, mereka lebih banyak menghabiskan waktu dalam masa pensiun. Di semua negara, para lansia merupakan bagian kecil dari tenaga kerja, dan persentasenya
terus menurun sejalan dengan
peningkatan usia.
Orang – orang yang terus bekerja setelah usia 65 sampai 70 tahun
menyukai pekerjaan mereka dan tidak menemukannya sebagai sesuatu yang membosankan dan menekan. Mereka cenderung lebih
aktif sepanjang periode santai mereka dibandingkan para pensiunan ( Kiefer et al., 2001 ).
Ü Bagaimana Usia Mempengaruhi Performa Pekerjaan dan
Sikap Terhadap Kerja ?
Pekerja lansia sering kali lebih produktif
dibandingkan yg lebih muda. Walaupun mrk bekerja lebih lamban dari org muda
akan tetapi mrk lebih akurat ( Czaja & Sharit, 1998 ).
Para Lansia cenderung lebih puas dg pekerjaan mrk
ketimbang yg lebih muda. Mrk terlibat, lebih berkomitmen, digaji lebih baik,
dan memiliki kecenderungan lebih kecil u beralih pekerjaan dibandingkan yg
muda.
Ü Hidup Setelah Pensiun
Orang – orang yang pensiun bisa jadi merasakan kehilangan peran sentral
bagi identitas mereka, atau mereka menikmati hilangnya ketegangan yg berlalu bersama
peran tersebut ( Kim &
Moen, 2002 ).
Sepanjang beberapa tahun pertama setelah pensiun, Orang-orang memiliki kebutuhan khusus akan dorongan atau dukungan
emosional yg membuat mrk merasa masih berharga dan agar dpt mengatasi perubahan
dalam hidup mereka.
Teori kontinuitas menyatakan bahwa orang-orang yang mempertahankan aktivitas dan gaya hidup mereka sebelumnya akan dapat menyesuaikan diri dengan lebih sukses.
v Gaya hidup yang berfokus pada keluarga
Investasi berimbang : Pola aktivitas pensiun yg dialokasikan diantara
keluarga, kerja, dan bersenang – senang.
Bersantai yang serius : Aktivitas
bersantai menghasilkan keterampilan, perhatian , dan komitmen.
v Living Arrangements
Hidup sendiri. Lansia
yang hidup
sendiri pada umumnya berada dlm kondisi kesehatan yg lebih baik dan tidak
dipungkiri rentan terhadap kesepian. Tetapi faktor lain seperti kepribadian,
kemampuan kognitif, kesehatan mental, mungkin memainkan peran yg lebih
signifikan dlm kerentanan trhdp kesepian.
Tinggal Bersama Anak yang Sudah Dewasa. Kesuksesan pengaturan u hidup bersama anak tergantung
kpd kualitas hub yg ada di masa lalu dan kemampuan kedua generasi u
berkomunikasi secara penuh dan terbuka.
Hidup dalam Institusi. Penggunaan institusi nonkeluarga u merawat lansia yg
sudah tua amat bervariasi, salah satunya adlh rumah jompo ( nursing home ).
Pilihan Rumah Alternatif. Pada saat ini bermunculan berbagai pilihan panti
kelompok yg bersama dg pertolongan medis modern dan program kesehatan rumah,
memungkinkan bagi lansia dg masalah kesehatan u tetap berada dlm komunitas
lebih lama lagi dan mendapatkan pelayanan atau perawatan yg dibutuhkan tanpa
mengorbankan kebebasan dan harga diri.
v Kekeliruan Penanganan Lansia
Pelecehan
lansia : Kesalahan penanganan,
penyia – nyiaan lansia yg bergantung kepada orang lain, atau pelanggaran terhadap hak pribadi mereka.
Kekeliruan
dalam
memperlakukan lansia bisa dipecah ke
dalam 4 kategori: ( 1 ) kekerasan fisik ( physical
violence ) yang
bertujuan untuk
mengakibatkan cedera, ( 2 ) pelecehan fisik atau emosional, yang bisa mencakup penghinaan dan ancaman (contoh:
ancaman akan diusir dari rumah/ dipanti jompokan ), (
3 ) eksploitasi material, atau penggelapan uang atau barang, ( 4 ) penyia-
nyiaan, keacuhan yang disengaja maupun yang tidak dalam memenuhi kebutuhan lansia ( Lachs & Pillemar,
1995 ).
3.
Hubungan Personal pada Usia Senja
Kontak
Sosial
Menurut teori selektivitas sosioemosional lansia
menjadi sangat selektif terhadap orang yang dipilihnya untuk menghabiskan waktu bersama.
Relasi dan Kesehatan. Hubungan sosial dan kesehatan berjalan beriringan tangan.
Keluarga Multigenerasi. Keluarga yang
sudah berusia lanjut memiliki karakter khusus ( Brubaker, 1983 ). Pada saat ini
banyak keluarga di negara maju terdiri dari empat atau bahkan lima generasi ( dengan lebih sedikit anggota keluarga pada setiap generasi ), memungkinkan seseorang menyandang gelar kakek dan cucu pada saat yang sama ( Kinsella & Velkoff, 2001 ). Kehadiran
banyak anggota keluarga dapat memberikan pengayaan tetapi juga dapat menciptakan tekanan yang serius.
4.
Relasi Konsensual
Tidak seperti hubungan keluarga lainnya, pernikahan dalam hubungannya memiliki karakteristik ikatan
persahabatan sekaligus darah dan hubungan tersebut dapat memberikan pengalaman emosional paling tinggi atau
paling rendah.
Pernikahan yang Kekal. Pasangan suami-sistri yang masih bersama di masa dewasa akhir berkecenderungan
menyatakan pernikahan mereka memuaskan dibandingkan pasangan paruh baya, dan bahkan
menyatakan kepuasaan tersebut meningkat. Pasangan yang masih bersama sampai usia lanjut cenderung telah
menyelesaikan perbedaan mereka dan telah sampai pada akomodasi memuaskan secara mutual.
Perceraian dan Pernikahan Kembali. Perceraian pada usia senja jarang terjadi, pasangan yang mengambil langkah ini melakukannya pada usia yang lebih muda. Demikian juga untuk menikah kembali di usia senja mungkin memiliki
karakteristik khusus. Menikah kembali memiliki manfaat sosial , karena lansia yang menikah tidak terlalu membutuhkan bantuan dari komunitas
dibandingkan yang
hidup sebatang kara.
Manjanda / Menduda. Pria lansia lebih cenderung menikah dibandingkan lansia wanita, para
wanita lebih cenderung menjanda dibandingkan pria, untuk alasan yang sama. Wanita cenderung hidup lebih lama dari suami mereka dan cenderung untuk tidak menikah lagi.
Hidup Sebatang Kara. Lansia yang tidak pernah menikah berkecenderungan lebih tinggi untuk memilih hidup seorang diri dibandingkan yang bercerai atau yang menjanda dan tidak terlalu merasa kesepian ( Dykstra, 1995 ).
Relasi Gay dan Lesbian. Lansia homoseksual, seperti lansia heteroseksual,
memiliki keinginan yang amat kuat terhadap intimasi, kontak seksual, dan generativitas. Hubungan gay dan lesbian pada usia senja cenderung menjadi
kuat, saling mendukung dan amat beragam.
Pertemanan.
Di kalangan lansia, pertemanan biasa tidak lagi dihubungkan kepada pekerjaan dan parenting, sebagaimana dalam periode masa dewasa yang lebih awal. Mereka lebih fokus kepada pendampingan dan dukungan ( Hartup & Stevens,
1999 ). Sebagian besar lansia memiliki sahabat dekat dan lebih menikmati waktu
yang mereka habiskan bersama teman dibandingkan waktu yang mereka habiskan bersama keluarga mereka.
5.
Ikatan Keluarga di Luar Pernikahan
v Hubungan dengan Anak yang Telah Dewasa
atau Ketiadaan Hubungan Tersebut
Sebagaimana yang diprediksi teori selektivitas sosioemosional
prediksikan, lansia mencoba menghabiskan lebih banyak waktu dengan orang terdekat, seperti anak mereka ( Troll & Fingerman, 1996 ).
Anak – anak memberikan hubungan dengan anggota lain, terutama dengan cucu. Dalam satu kelompok orang “ old old “ dari berbagai latar belakang
sosioekonomi, mereka yang bersatu sebagai orang tua lebih aktif berhubungan dengan keluarga lain dibandingkan dengan orang-orang yang tidak memiliki anak.
Lansia dalam kondisi kesehatan yang lebih baik lebih sering mengadakan kontak dengan keluarga mereka dan dilaporkan merasa lebih dekat kepada keluarga tersebut dibandingkan mereka yang berada dalam kondisi kesehatan yang buruk.
v Relasi dengan Saudara Kandung
Semakin dekat seorang lansia hidup di dekat saudara
kandungnya dan semakin banyak saudara kandung yang mereka miliki, semakin cenderung orang tersebut mempercayai saudaranya ( Connidis & Davies, 1992
).
Saudara kandung di negara berkembang berkecenderungan
lebih besar memberikan bantuan ekonomi ( Bedford, 1995 ). Terlepas seberapa
besar bantuan yang
mereka berikan, kesiapan saudara kandung merup sumber perasaan nyaman dan aman di masa tua (
Cicirelli, 1995 ).
v Menjadi Buyut
Ketika para cucu mulai tumbuh, para kakek/ nenek
semakin jarang bertemu mereka. Kemudian, ketika si cucu menjadi orang tua, sang kakek dan nenek mendapatkan peran baru
sebagai buyut.
Para kakek nenek dan para buyut penting bagi keluarga
mereka. Mereka adalah sumber kebijaksanaan, pendamping dalam bermain, penghubung ke masa lalu, dan simbol
kontinuitas kehidupan keluarga.
Mereka terlibat dalam fungsi generatif utama : Mengekspresikan hasrat
manusia untuk
melampaui mortalitas ( kematian ) dengan menginvestasikan diri mereka sendiri dalam kehidupan generasi berikutnya.
BAB III
PENUTUP
3.1.Kesimpulan
Masa dewasa
lanjut usia merupakan masa lanjutan atau masa dewasa akhir (60 ke atas). Perlu
memperhatikan khusus bagi orangtuanya yang sudah menginjak lansia dan anaknya
yang butuh dukungan juga untuk menjadi seorang dewasa yang bertanggungjawab. Di
samping itu permasalahan dari diri sendiri dengan perubahan fisik, mulai tanda
penuaan yang cukup menyita perhatian.
Pada masa
dewasa akhir, ada beberaa erkembangan yang kita alami. Diantaranya adalah
perkembanagn fisik, perkembangan kognitif, perkembangan psikis dan intelektual,
perkembangan emosional, perkembangan minat, dan perkembangan kepribadian.
Tahap Akhir
Erik Erickson, Inetgritas Ego versus Keputusasaan, terkumulasi dalam”Moralitas”
kebijaksanaan, atau menerima kehidupan seseorang dan kematian yang akan datang.
3.2.Saran
Semoga
apa yang disajikan dalam makalah ini dapat bermanfaat bagi teman-teman dan
pihak yang berkepentingan.
Kami
menyadari bahwa dalam penulisan makalah ini terdapat banyak
kekurangan,oleh karena itu saran dan kritik yang membangun sangat kami butuhkan
agar dapat menyempurnakannya di masa yang akan datang.
Daftar Pusataka
Hurlock, Elizabeth B., 1980, A Life-Span Approach,
Jakarta: Erlangga
Papalia.E,Diane.dan Sally. Dan Ruth., 2008, Human
Development, Jakarta: Kencana
Tidak ada komentar:
Posting Komentar