Jumat, 05 Mei 2017

psikologi perkembangan dewasa akhir



BAB I
PENDAHULUAN
1.1.Latar Belakang
Perubahan Fisik yang semakin menua akan sangat berpengaruh terhadap peran dan hubungan dirinya dengan lingkunganya. Perubahan intelektual, pada umumnya orang percaya bahwa proses belajar, memori, dan intelegensi mengalami kemerosotan bersamaan dengan terus bertambahnya usia Kecepatan dalam memproses informasi mengalami penurunan pada masa dewasa akhir. Selain itu, orang-orang dewasa lanjut kurang mampu mengeluarkan kembali informasi yang telah disimpan dalam ingatannya. Kecepatan memproses informasi secara pelan-pelan memang akan mengalami penurunan pada masa dewasa akhir.
Dengan adanya perubahan ini, maka terkadang membuat orang-orang yang telah masuk dalam fase ini menjadi menarik diri dari lingkungannya.
1.2 Rumusan Masalah
1. Bagaimana Perkembangan Fisik Usia Akhir?
2. Bagaimana Perkembangan Kognitif Usia Akhir?
3. Bagaimana Perkembangan Psikososial Usia Akhir?
1.3 Tujuan Masalah
1. Mengetahui Perkembangan Fisik Usia Akhir
2. Mengetahui Perkembangan Kognitif Usia Akhir
3. Mengetahui Perkembangan Psikososial Usia Akhir
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 PERKEMBANGAN FISIK
Pada saat ini, ilmuan sosial yang mengkhususkan diri mempelajari penuan merujuk kepada tiga kelompok lansia:”lansia muda”(young old), usia antara 65-74 tahun. “Lansia tua”(old old) berusia antara 75-84. Dan “lansia tertua”(oldest old) berusia 85 tahun keatas.
Akan tetapi, kalasifikasi yang lebih berguna adalah usia fungsional: sebarapa baik seseorang berfungsi dalam lingkungan fisik dan sosial dibandingkan dengan orang lain yang seusianya. Seorang berusia 90 tahun yang tetap berasa dalam kesehatan yang prima bisa jadi berfungsi lebih muda dibandingkan oarang berusia 65 tahun yang tidak sehat.
1.      Usia dan Penuaan
Harapan hidup telah meningkat secara dramatis. Semakin lama orang hidup, semakin panjang meraka berkeinginan untuk hidup. Harapan hidup : Usia dimana seseorang dalam waktu tertentu biasanya hidup (dengan mempertimbangkan usia & status kesehatannya pada saat ini ), berdasarkan usia rata – rata populasi. Usia : Panjang kehidupan seseorang, dan Rentang usia : Periode terpanjang suatu spesies dapat hidup
a)    Tren dan Faktor dalam Harapan Hidup
Perbedaan Regional dan Etnis : Rata-rata seseorang yang lahir di negara maju dapat berharap untuk hidup tiga belas tahun lebih lama dibandingkan orang yang lahir di negara berkembang. Akan tetapi, harapan hidup bervariasi secara lebih luas dalam beberapa negara.
Perbedaan Gender : Hampir di seluruh dunia, wanita hidup lebih lama dibandingkan pria, walaupun terdapat pengecualian di negara berkembang dimana para anak perempuan dan wanita menghadapi diskriminasi yang parah ( Kinsella & Velkoff, 2001 ). Lebih panjangnya usia wanita diakaitkan kepada beberapa faktor, kencendrunag mereka yang lebih besar dalam mengurusi diri sendiri dan untuk mencari perawatan medis, tingkat dukungan sosial yang mereka nikmati lebih besar, dan lebih besarnya kerapuhan biologis pada pria.
b) Mengapa Orang – Orang Menjadi Tua ?
Tabel 1.2 Teori penuaan Biologis
Teori pemrograman genetik
Teori peringkat variabel
Teori senescene terprogram : Penuaan merupakan hasil pertukaran berurutan pada gen tertentu. Senescene merupakan waktu ketika penurunan yang berkaitan dengan penuaan menjadi
Teori wear and tear : Sel dan jaringan memiliki bagian vital yg akan rusak.
Teori Endokrin : Jam biologis bertindak melalui hormon untuk mengontrol dimensi penuaan.
Teori radikal bebas : Akumulasi kerusakan dari radikal oksigen menyebabkan sel dan organ untuk berhenti berfungsi.
Teori Imunologis : Penuaan terprogram dalam sistem imun tubuh yang menjurus kepada peningkatan kerapuhan terhadap penyakit menular & kemudian kepada penuaan dan kematian.
Teori peringkat kehidupan : semakin besar tingkat metabolisme, semakin pendek  usianya.

Teori autoimun : Sistem imun menjadi bingung & menyerang sel tubuh sendiri.

2.      Perubahan Fisik
Kulit mereka yang sudah menua menjadi memucat dan kurang elastis, dan seiring dengan mengkerutnya lemak dan otot, kulit tersebut bisa jadi mengkerut. Pembengkakan pembuluh darah dikaki menjadi hal yang umum. Rambut dikepala menjadi putih dan menjadi semakin tipis, dan rambut menjadi semakin jarang.
Orang dewasa yang lebih tua menjadi lebih pendek seiring dengan melemahnya tulang vertebrae, dan postur bungkuk manjadikan mereka semakin kecil. Penipisan tulangdapat menyebabkan “dowager hump” pada belakang leher, terutama bagi wanita dengan osteoporosis. Selain itu, komposisi kimia tulang juga berubah, menciptakan resiko keretakan yang lebih besar.
a)      Perubahan Organis dan Sistematis
Perubahan dalam fungsi organis dan sistematis sangat bervariasi, baik diantara maupun didalam individu. Sebagian sistem tubuh dan keberfungsian organ menurun, sedangkan sebagian yang lain tetap sebagaimana adanya, Akan tetapi jantung menjadi sensitif terhadap penyakit dan kemampuan pencadangan(reserve capicity) menurun.
b)     Penuaan Otak
Pada lansia normal dan sehat, perubahan pada otak biasanya bersifat rendah dan hanya membuat sedikit perbedaan ( kemper, 1994 ). Setelah usia 30 tahun, otak kehilangan beratnya, pertama- tama sedikit, kemudian menjadi lebih cepat. Sehingga, pada usia 90 tahun, otak kehilangan 10 % dari beratnya.
c)      Fungsi Sensoris dan Psikomotoris
Penglihatan : Banyak lansia yg kesulitan melihat warna atau melakukan aktivitas sehari- hari seperti membaca, menjahit, berbelanja, dan memasak. Sebagian besar kerusakan penglihatan ( termasuk kebutaan ) disebabkan oleh katarak, degenerasi moskular yang berhubungan dengan usia, glaukoma, dan retinopathy diabetes ( komplikasi diabetes yang tidak berkaitan dengan usia ).
Pendengaran : 40 % lansia menderita kehilangan pendengaran, sering kali disebabkan oleh pres- bycusis, penurunan dalam kemampuan mendengarkan suara bernada tinggi yang berkaitan dengan usia ( O’Neill et al., 1999).
Rasa dan Bau : Kehilangan kedua indra ini dapat merupakan bagian normal dari penuaan, tetapi juga dapat disebabkan oleh berbagai jenis penyakit dan obat- obatan, pembedahan, atau keterpaparan terhadap materi beracun di lingkungan. Selain itu dapat disebabkan juga oleh olfactory bulb, organ di otak yang bertanggung jawab terhadap penciuman dan perasa  yang rusak.
Kekuatan, Daya Tahan, Keseimbangan, dan Waktu Bereaksi : Lansia memiliki kekuatan yang jauh berkurang dari yang pernah mereka miliki dan lebih terbatas kemampuannya dalam aktivitas yang mensyaratkan daya tahan atau kemampuan membawa beban berat.
d)     Fungsi Seksual
Seks pada masa dewasa akhir berbeda dengan apa yang ada pada masa yang lebih muda. Pria biasanya membutuhkan waktu lebih lama untuk ereksi dan ejakulasi. Basahmya payudara wanita dan sinyal gairah seksual menjadi kurang intens dibandingkan sebelumnya. Vagina menjadi kurang fleksibel dan mungkin membutuhkan pelumas buatan.
3.      Kesehatan Fisik dan Mental
a)      Status sehat dan perawatan kesehatan
Sebagian besar orang tua sehat, terutama jika mereka mengikuti gaya hidup yang sehat. Sebagian besar memang memillki kondisi kronis dan Ketidakberdayaan Fisik biasanya memiliki satu atau lebih kondisi kronis maupun ketidakberdayaan fisik, akan tetapi hal ini tidak amat membatasi aktivitas atau menggangu rutinitas keseharian. Jumlah lansia dengan ketidakberdayaan fisik telah menurun. Walaupun demikian, lansia membutuhkan lebih banyak perwatan medis dibandingkan yang lebih muda.  
b)     Pengaruh pada kesehatan
Aktivitas Fisik. Program olahraga jangka panjang bisa mencegah banyak perubahan fisik yang diasosiasikan dengan penuaan yang normal. Latihan reguler dapat menguatkan jantung & paru – paru serta menurunkan stres.
Nutrisi. Nutrisi berperan dalam proses kerapuhan terhadap penyakit kronis seperti atherosclerosis, jantung, dan diabetes ( Mohs, 1994 ). Memakan buah & sayur – sayuran, terutama yg kaya dg vitamin C seperti buah jeruk dan jus, sayuran berdaun hijau, brokoli, kubis menurunkan resiko stoke ( Joshipura at al., 1999 ). Kekurangan Vitamin D meningkatkan resiko patah pinggul ( LeBoff et al., 1999 )
c)      Masalah mental dan prilaku
Sebagian besar lansia barada dalam kesehatan mental yang baik. Walaupun demikian, gangguan mental dan prilaku yang memang terjadi pada masa tua dapat manghancurakn.
      Demensia(kepikunan). Istilah penurunan prilaku dan kognitif yang secara psikologis  dapat memengaruhi kehidupan sehari-hari.
      Alzheimer. Gangguan otak yang bersifat degeneratif dan progresif, yang ditandai dengan penurunan kognitif dan kehilangan kontrol fungsi tubuh, bermuara pada kematian.
      Prakinson. Degenerasi neurologis progresif, ditandai dengan gemetar, kekuan gerakan yang melambat, dan postur yang tidak stabil.
      Depresi. Akibat dari pengaruh interaksi berbagai gen dengan faktor lingkungan(NIMH,1999b). Seperti kurang berolahraga. Peristiwa yang menekan, kesendirian, dan penggunaan pengobatan tertentu dapat memicunya. Jaringan keluarga dan teman yang kuat dapat membantu orang yang lebih tua menghilangkan depresi atau menghadapinya.
2.1   PERKEMBANGAN KOGNITIF
1)    Beberapa aspek perkembangan kognitif
a)      Kecerdasan dan Kemampuan Memproses
Ø  Mengukur kecerdasan lansia. Mengukur kecerdasan lansia  merupakan hal yang kompleks. Sejumlah faktor fisik dan psikologis dapat menurunkan nilai kecerdasan dan mengarah kepada kesalahan penilaian atas kecerdasan mereka. Untuk mengukur kecerdasan lansia, para periset seringkali menggunakan tes Wechsler Adult Intelligence Scale ( WAIS ).
      Model dual proses : Model fungsi kognitif yang dikemukakan oleh Baltes, yang mengidentifikasi dan mencoba mengukur dua dimensi kecerdasan, yakni mekanis dan pragmatis.
Mekanika kecerdasan : Pada model dual proses Baltes, istilah ini berarti kemampuan memproses informasi dan memecahkan masalah, terlepas dari isi, dapat pula berarti area kognisi dimana kerap terjadi penurunan yang berkaitan dengan usia.
Pragmatis Kecerdasan : Dalam model dual proses Baltes, kalimat ini berarti dimensi kecerdasan yang cenderung tumbuh seiring dengan bertambahnya usia dan mencakup pemikiran praktis, aplikasi dari pengetahuan & keterampilan yang terakumulasi, kekhususan, produktivitas profesional, dan kebijaksanaan.
Optimasi selektif terhadap kompetensi : Dalam model dual proses Baltes, strategi untuk memelihara atau meningkatkan keseluruhan fungsi kognitif dengan menggunakan kekuatan yang lebih kuat untuk mengkompensasi yang melemah.
Ø  Perubahan dalam Kemampuan Memproses : Penurunan menyeluruh pada fungsi sistem saraf pusat, sebagaimana yang diukur melalui waktu reaksi, secar luas dipercaya sebagai kontributor utama perubahan dalam kemampuan kognitif dan efisiensi dalam pemprosesan informasi. Kemampuan yang digunakan untuk belajar dan menguasai keterangan baru cenderung menurun pada lansia.
Ø  Kompetensi dalam Tugas Sehari- hari dan Pemecahan Masalah : Ketika orang menjadi tua, tes penting kompetensi kognitifnya adalah kemampuan untuk hidup independen, sebagaimana yang diukur oleh tujuh aktivitas instrumental hidup sehari- hari ( IADLs ) : mengatur keuangan, berbelanja kebutuhan pokok, menggunakan telepon, mendapatkan transportasi, mempersiapkan makan, berobat, dan mengurus rumah.
b)     Memori : Bagaimana Perubahannya?
ž  Memori Jangka Pendek
§  Memori sensoris : Penyimpanan awal, singkat, dan temporer informasi sensoris.
§  Memori kerja : Penyimpanan jangka pendek informasi yang sedang diproses secara aktif.
ž  Memori Jangka Panjang
      Memori episodik : Memori jangka panjang pengalaman/ peristiwa tertantu, dihubungkan kepada waktu dan tempat.
      Memori semantis : Memori jangka panjang pengalaman faktual umum, adat istiadat, dan bahasa.
      Memori prosedural : Memori jangka panjang keteranagn Motor, kebiasaan, dan cara melakukan sesuatu yang kerap dapat dipanggil kembali tanpa usaha yang disengaja, terkadang disebut memori implisit.
      Priming : Peningkatan kemudahan dalam melakukan suatu tugas atau mengingat informasi sebagai hasil dari interaksi sebelumnya dengan tugas atau informasi tersebut.
ž  Mengapa Beberapa Aspek Memori Menurun ?
à Masalah pada Encoding, Storage, dan Retrieval : Lansia cenderung kurang efisien dan akurat dalam meng- encode informasi baru yang mudah diingat, menyimpan, dan mengulang kembali.
à Perubahan Neurologis:
      Hipocampus : penting dalam kemampuan menyimpan informasi baru dalam memori jangka panjang, diperkirakan kehilangan 20 % sel sarafnya pada usia senja.
      Daerah di kiri prefrontal cortex tampaknya mempengaruhi kemampuan lansia dlm mengingat dan mengenali. Penurunan pada prefrontal cortex bisa menyebabkan masalah memori umum lansia seperti lupa memenuhi janji dan menyangka peristiwa yang dibayangkan sebagai benar – benar terjadi.
c)      Metamemori : Pandangan dari Dalam
Metamemory in Adulthood ( MIA ) : Kuesioner yang didesain mengukur berbagai aspek metamemori orang dewasa, termasuk keyakinan akan memori mereka sendiri dan seleksi serta penggunaan strategi untuk mengingat.
Meningkatkan Memori pada Lansia. Beberapa peneliti telah menawarkan program pelatihan mnemonics : yaitu teknik yang di desain untuk membantu orang mengingat, membuat asosiasi antara wajah dan nama, atau mentrasformasikan berbagai elemen cerita ke dalam citra mental.
d)     Kebijaksanaan
Erickson memandang kebijaksanaan sebagai sebuah aspek perkembangan kepribadian di masa senja. Penyelidik lain mendefinisikan kebijaksanaan sbg perluasan pemikiran postformal, yakni sintesis penalaran dan emosi.
Kualitas seperti sikap terbuka terhadap pengalaman, kreativitas, pemikiran refleksif, dan penalaran moral nampaknya amat mempengaruhi perkembangan kebijaksanaan ( Pasupathi et al., 2001).
ž  Temuan utama dalam sebuah riset adalah bahwa kebijaksanaan umumnya dimiliki oleh orang – orang tua, walaupun tidak secara eksklusif hanya
2)    Belajar seumur hidup
Belajar seumur hidup dapat membuat lansia tetap membuat lansia tetap mawas sercara mental. Program pendidikan bagi lansia meningkat dengan pesat. Sebagian besar program ini memilki fokus sosial praktis atau pendidikan yang lebih serius. Lansia belajar dengan lebih baik ketika materi dan metode disesuaikan dengan kebutuhan kelompok usia ini.
2.3 PERKEMBANGAN PSIKOSOSIAL
1)      Teori dan riset terhadap perkembangan psikososial
v  Stabilitas Kualitas Kepribadian
Meskipun beberapa riset telah menemukan perubahan usia senja dlm beberapa dimensi tertentu dari “ lima besar “ kepribadian, seperti peningkatan persetujuan dan menurunnya ekstraversi telah menunjukkan kasus yang mengesankan tentang stabilitas esensial kualitas kepribadian. Pola kualitas tertentu yang terus ada memberikan kontribusi terhadap kemampuan beradaptasi denga penuaan dan dapat memprediksikan kesehatan dan usia.
v  Isu dan Tugas Normatif
Bagi Erickson, potensi puncak masa dewasa akhir adalah perasaan akan adanya integritas ego ( ego integrity ), atau integritas diri , pencapaian yang didasarkan pada refleksi akan kehidupan seseorang.
Integritas ego Vs Keputusasaan : Menurut Erickson, tahap kedelapan dan akhir perkembangan psikososial, di mana orang – orang pada masa dewasa akhir mencapai perasaan integritas diri dengan menerima hidup yang pernah mereka jalani, dan karena itu menerima kematian, atau berujung kepada keputusasaan bahwa hidup mereka tidak dapat diulang kembali.
Erikson meyakini bahwa walaupun fungsi tubuh melemah, orang harus mempertahankan “ keterlibatan vital “ dalam masyarakat.
v  Model Coping
Coping ( penanganan masalah ) adalah pemikiran atau perilaku adaptif dalam mengurangi atau meringankan stres yang bersumber dari kondisi yg menyakitkan, berbahaya, atau menantang. Coping merupakan aspek penting dalam kesehatan mental.
a. Berbagai Faktor dalam Kesehatan Emosional : George Vailliant. Menurut tiga studi prospektif 50 tahun kehidupan, faktor prediktif paling penting adalah penggunaan pertahanan adaptif ( adaptive defenses ) yang sudah matang  seperti mementingkan kepentingan org lain, menahan diri, antisipasi ( merencanakan masa depan ), dan sublimasi ( menyaring inti hidup ) dalam menghadapi berbagai masalah.
b. Model Penilaian Kognitif : Model penanganan masalah ( coping ) yg dikemukakan oleh Lazarus dan Folkman yg menyatakan bahwa berdasarkan penilaian berkesinambungan dlm hubungan mereka dengan lingkungan orang-orang memilih strategi penanganan masalah yang tepat untuk menghadapi situasi yang memotong sumber daya mereka.
Coping berfokus pada masalah : Dlm model ini strategi penanganan masalah ditujukan langsung untuk bertujuan menghilangkan, mengatur, atau meningkatkan kondisi yg menekan.
Coping berfokus pada emosi : Dlm model penanganan masalah berfokus pada penilaian kognitif, strategi coping diarahkan kepada pengaturan respons emosional terhadap situasi yang menekan untuk mengurangi pengaruh fisik atau psikologisnya ; terkadang disebut pallative coping.
c. Agama dan Kebahagiaan di Akhir Usia
Agama tampaknya memainkan peran pendukung bagi banyak lansia. Kemungkinan penjelasan bagi hal ini antara lain dukungan sosial, keinginan akan gaya hidup yg sehat, persepsi ttg kontrol trhdp hidup mrk melalui do’a, mendorong kondisi emosi positif, penurun stres, dan keimanan terhadap Tuhan sbg cara menafsirkan kesialan ( Seybold & Hill, 2001 ).
Keterlibatan religiusitas tampak memiliki pengaruh positif pd kesehatan mental scr fisik dan usia ( Ellison & Levin, 1998; Koenig, George, & Peterson, 1998 ). Penelisikan terhadap riset ini menemukan asosiasi positif antara religiusitas atau spiritualitas dan kebahagiaan, kepuasan mental, fungsi psikologis, dan asosiasi negatif dg bunuh diri, pembangkangan, kriminalitas, dan penyalahgunaan obat serta minuman keras ( Seybold & Hill, 2001 ).
Orang – orang dg komitmen religius yg tinggi cenderung memiliki kepercayaan diri yg tinggi ( Krause, 1995 ).
v  Model Penuaan “ Sukses “ atau “ Optimal “
Teori Penarikan Diri : Teori penuaan yg diungkapkan oleh Cumming dan Henry yg menyatakan bahwa penuaan yg sukses ditandai dg penarikan diri mutual antara lansia dan masyarakat.
Teori Aktivasi : Teori penuaan yg dipopulerkan oleh Neugarten dan yg lain, yg menyatakan bahwa u menua dg sukses sso harus tetap aktif.
Teori Kontinuitas : Teori penuaan yg disodorkan oleh Atchley, yg menyatakan bahwa u menua dg sukses sso harus mempertahankan keseimbangan kontinuitas dan perubahan dlm struktur internal dan eksternal kehidupan mereka.
o   Peran Produktivitas : Sebagian ahli riset berfokus pada aktivitas produktif, berbayar atau sukarela, sebagai kunsci untuk menjalani penuaan dengan baik.
o   Optimasi Selektif dengan Kompensasi : Penuaan yang sukses tergantung kepada kepemilikan tujuan yang memandu perkembangan dan sumber daya untuk menjadikan tujuan tersebut berpotensi untuk diraih. Pada masa tua bahkan sepanjang usia, kata peneliti hal ini terjadi melalui optimasi selektif dengan kompensasi.
2.      Gaya Hidup Dan Isu Sosial Yang Berkaitan Dengan Usia
v  Tren dalam Pekerjaan di Usia Lanjut dan Pensiun:
Sebagian besar orang dewasa yang dapat pensiun, melakukannya dan seiring dengan semakin panjang usianya, mereka lebih banyak menghabiskan waktu dalam masa pensiun. Di semua negara, para lansia merupakan bagian kecil dari tenaga kerja, dan persentasenya terus menurun sejalan dengan peningkatan usia.
Orang – orang yang terus bekerja setelah usia 65 sampai 70 tahun menyukai pekerjaan mereka dan tidak menemukannya sebagai sesuatu yang membosankan dan menekan. Mereka cenderung lebih aktif sepanjang periode santai mereka dibandingkan para pensiunan ( Kiefer et al., 2001 ).
Ü  Bagaimana Usia Mempengaruhi Performa Pekerjaan dan Sikap Terhadap Kerja ?
Pekerja lansia sering kali lebih produktif dibandingkan yg lebih muda. Walaupun mrk bekerja lebih lamban dari org muda akan tetapi mrk lebih akurat ( Czaja & Sharit, 1998 ).
Para Lansia cenderung lebih puas dg pekerjaan mrk ketimbang yg lebih muda. Mrk terlibat, lebih berkomitmen, digaji lebih baik, dan memiliki kecenderungan lebih kecil u beralih pekerjaan dibandingkan yg muda.
Ü  Hidup Setelah Pensiun
Orang – orang yang pensiun bisa jadi merasakan kehilangan peran sentral bagi identitas mereka, atau mereka menikmati hilangnya ketegangan yg berlalu bersama peran tersebut ( Kim & Moen, 2002 ).
Sepanjang beberapa tahun pertama setelah pensiun, Orang-orang memiliki kebutuhan khusus akan dorongan atau dukungan emosional yg membuat mrk merasa masih berharga dan agar dpt mengatasi perubahan dalam hidup mereka.
Teori kontinuitas menyatakan bahwa orang-orang yang mempertahankan aktivitas dan gaya hidup mereka sebelumnya akan dapat menyesuaikan diri dengan lebih sukses.                          
v  Gaya hidup yang berfokus pada keluarga
Investasi berimbang : Pola aktivitas pensiun yg dialokasikan diantara keluarga, kerja, dan bersenang – senang.
Bersantai yang serius : Aktivitas bersantai menghasilkan keterampilan, perhatian , dan komitmen.
v  Living Arrangements
Hidup sendiri. Lansia yang hidup sendiri pada umumnya berada dlm kondisi kesehatan yg lebih baik dan tidak dipungkiri rentan terhadap kesepian. Tetapi faktor lain seperti kepribadian, kemampuan kognitif, kesehatan mental, mungkin memainkan peran yg lebih signifikan dlm kerentanan trhdp kesepian.
Tinggal Bersama Anak yang Sudah Dewasa. Kesuksesan pengaturan u hidup bersama anak tergantung kpd kualitas hub yg ada di masa lalu dan kemampuan kedua generasi u berkomunikasi secara penuh dan terbuka.
Hidup dalam Institusi. Penggunaan institusi nonkeluarga u merawat lansia yg sudah tua amat bervariasi, salah satunya adlh rumah jompo ( nursing home ).
Pilihan Rumah Alternatif. Pada saat ini bermunculan berbagai pilihan panti kelompok yg bersama dg pertolongan medis modern dan program kesehatan rumah, memungkinkan bagi lansia dg masalah kesehatan u tetap berada dlm komunitas lebih lama lagi dan mendapatkan pelayanan atau perawatan yg dibutuhkan tanpa mengorbankan kebebasan dan harga diri.
v  Kekeliruan Penanganan Lansia
Pelecehan lansia : Kesalahan penanganan, penyia – nyiaan lansia yg bergantung kepada orang lain, atau pelanggaran terhadap hak pribadi mereka.
Kekeliruan dalam memperlakukan lansia bisa dipecah ke dalam 4 kategori: ( 1 ) kekerasan fisik ( physical violence ) yang bertujuan untuk mengakibatkan cedera, ( 2 ) pelecehan fisik atau emosional, yang bisa mencakup penghinaan dan ancaman (contoh: ancaman akan diusir dari rumah/ dipanti jompokan ), ( 3 ) eksploitasi material, atau penggelapan uang atau barang, ( 4 ) penyia- nyiaan, keacuhan yang disengaja maupun yang tidak dalam memenuhi kebutuhan lansia ( Lachs & Pillemar, 1995 ).
3.      Hubungan Personal pada Usia Senja
Kontak Sosial
Menurut teori selektivitas sosioemosional lansia menjadi sangat selektif terhadap orang yang dipilihnya untuk menghabiskan waktu bersama.
Relasi dan Kesehatan. Hubungan sosial dan kesehatan berjalan beriringan tangan.
Keluarga Multigenerasi. Keluarga yang sudah berusia lanjut memiliki karakter khusus ( Brubaker, 1983 ). Pada saat ini banyak keluarga di negara maju terdiri dari empat atau bahkan lima generasi ( dengan lebih sedikit anggota keluarga pada setiap generasi ), memungkinkan seseorang menyandang gelar kakek dan cucu pada saat yang sama ( Kinsella & Velkoff, 2001 ). Kehadiran banyak anggota keluarga dapat memberikan pengayaan tetapi juga dapat menciptakan tekanan yang serius.
4.      Relasi Konsensual
Tidak seperti hubungan keluarga lainnya, pernikahan dalam hubungannya memiliki karakteristik ikatan persahabatan sekaligus darah dan hubungan tersebut dapat memberikan pengalaman emosional paling tinggi atau paling rendah.
Pernikahan yang Kekal. Pasangan suami-sistri yang masih bersama di masa dewasa akhir berkecenderungan menyatakan pernikahan mereka memuaskan dibandingkan pasangan paruh baya, dan bahkan menyatakan kepuasaan tersebut meningkat. Pasangan yang masih bersama sampai usia lanjut cenderung telah menyelesaikan perbedaan mereka dan telah sampai pada akomodasi memuaskan secara mutual.
Perceraian dan Pernikahan Kembali. Perceraian pada usia senja jarang terjadi, pasangan yang mengambil langkah ini melakukannya pada usia yang lebih muda. Demikian juga untuk menikah kembali di usia senja mungkin memiliki karakteristik khusus. Menikah kembali memiliki manfaat sosial , karena lansia yang menikah tidak terlalu membutuhkan bantuan dari komunitas dibandingkan yang hidup sebatang kara.
Manjanda / Menduda. Pria lansia lebih cenderung menikah dibandingkan lansia wanita, para wanita lebih cenderung menjanda dibandingkan pria, untuk alasan yang sama. Wanita cenderung hidup lebih lama dari suami mereka dan cenderung untuk tidak menikah lagi.
Hidup Sebatang Kara. Lansia yang tidak pernah menikah berkecenderungan lebih tinggi untuk memilih hidup seorang diri dibandingkan yang bercerai atau yang menjanda dan tidak terlalu merasa kesepian ( Dykstra, 1995 ).
Relasi Gay dan Lesbian. Lansia homoseksual, seperti lansia heteroseksual, memiliki keinginan yang amat kuat terhadap intimasi, kontak seksual, dan generativitas. Hubungan gay dan lesbian pada usia senja cenderung menjadi kuat, saling mendukung dan amat beragam.
Pertemanan. Di kalangan lansia, pertemanan biasa tidak lagi dihubungkan kepada pekerjaan dan parenting, sebagaimana dalam periode masa dewasa yang lebih awal. Mereka lebih fokus kepada pendampingan dan dukungan ( Hartup & Stevens, 1999 ). Sebagian besar lansia memiliki sahabat dekat dan lebih menikmati waktu yang mereka habiskan bersama teman dibandingkan waktu yang mereka habiskan bersama keluarga mereka.
5.      Ikatan Keluarga di Luar Pernikahan
v  Hubungan dengan Anak yang Telah Dewasa atau Ketiadaan Hubungan Tersebut
Sebagaimana yang diprediksi teori selektivitas sosioemosional prediksikan, lansia mencoba menghabiskan lebih banyak waktu dengan orang terdekat, seperti anak mereka ( Troll & Fingerman, 1996 ).
Anak – anak memberikan hubungan dengan anggota lain, terutama dengan cucu. Dalam satu kelompok orang “ old old “ dari berbagai latar belakang sosioekonomi, mereka yang bersatu sebagai orang tua lebih aktif berhubungan dengan keluarga lain dibandingkan dengan orang-orang yang tidak memiliki anak.
Lansia dalam kondisi kesehatan yang lebih baik lebih sering mengadakan kontak dengan keluarga mereka dan dilaporkan merasa lebih dekat kepada keluarga tersebut dibandingkan mereka yang berada dalam kondisi kesehatan yang buruk.
v  Relasi dengan Saudara Kandung
Semakin dekat seorang lansia hidup di dekat saudara kandungnya dan semakin banyak saudara kandung yang mereka miliki, semakin cenderung orang tersebut mempercayai saudaranya ( Connidis & Davies, 1992 ).
Saudara kandung di negara berkembang berkecenderungan lebih besar memberikan bantuan ekonomi ( Bedford, 1995 ). Terlepas seberapa besar bantuan yang mereka berikan, kesiapan saudara kandung merup sumber perasaan nyaman dan aman di masa tua ( Cicirelli, 1995 ).
v  Menjadi Buyut
Ketika para cucu mulai tumbuh, para kakek/ nenek semakin jarang bertemu mereka. Kemudian, ketika si cucu menjadi orang tua, sang kakek dan nenek mendapatkan peran baru sebagai buyut.
Para kakek nenek dan para buyut penting bagi keluarga mereka. Mereka adalah sumber kebijaksanaan, pendamping dalam bermain, penghubung ke masa lalu, dan simbol kontinuitas kehidupan keluarga.
Mereka terlibat dalam fungsi generatif utama : Mengekspresikan hasrat manusia untuk melampaui mortalitas ( kematian ) dengan menginvestasikan diri mereka sendiri dalam kehidupan generasi berikutnya.




BAB III
PENUTUP
3.1.Kesimpulan
Masa dewasa lanjut usia merupakan masa lanjutan atau masa dewasa akhir (60 ke atas). Perlu memperhatikan khusus bagi orangtuanya yang sudah menginjak lansia dan anaknya yang butuh dukungan juga untuk menjadi seorang dewasa yang bertanggungjawab. Di samping itu permasalahan dari diri sendiri dengan perubahan fisik, mulai tanda penuaan yang cukup menyita perhatian.
Pada masa dewasa akhir, ada beberaa erkembangan yang kita alami. Diantaranya adalah perkembanagn fisik, perkembangan kognitif, perkembangan psikis dan intelektual, perkembangan emosional, perkembangan minat, dan perkembangan kepribadian.
Tahap Akhir Erik Erickson, Inetgritas Ego versus Keputusasaan, terkumulasi dalam”Moralitas” kebijaksanaan, atau menerima kehidupan seseorang dan kematian yang akan datang.
3.2.Saran
Semoga apa yang disajikan dalam makalah ini dapat bermanfaat bagi teman-teman dan pihak yang berkepentingan.
Kami menyadari  bahwa dalam penulisan makalah ini terdapat banyak kekurangan,oleh karena itu saran dan kritik yang membangun sangat kami butuhkan agar dapat menyempurnakannya di masa yang akan datang.



Daftar Pusataka
Hurlock, Elizabeth B., 1980, A Life-Span Approach, Jakarta: Erlangga
Papalia.E,Diane.dan Sally. Dan Ruth., 2008, Human Development, Jakarta: Kencana

Tidak ada komentar:

Posting Komentar