Jumat, 05 Mei 2017

ILMU KALAM ALIRAN ASY`ARIYYAH



Karya Ilmiah
MAKALAH
ILMU KALAM
ALIRAN ASY`ARIYYAH
Dosen:Mislaiana, M.Pd.I


Disusun oleh:

Nama:Santi Rianti
NPM:1411080122
Kelas: B


Logo_IAIN_Raden_Intan_Bandar_Lampung.jpg


JURUSAN BIMBINGAN DAN KONSELING
FAKULTAS TARBIYAH DAN KEGURUAN
IAIN RADEN INTAN
T.A 2014M/1436H

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas selesainya Makalah Ilmu Kalam tentang Aliran Asy`Ariyah. Dengan adanya makalah ini kita dapat mengetahui mengenai Aliran Asy`Ariyah.
Penulisan makalah ini adalah salah satu tugas mata kuliah Ilmu Kalam. Dalam penulisan makalah ini kami merasa masih banyak kekurangan baik dalam teknis penulisan maupun materi, mengingat kemampuan yang dimiliki kami. Serta kami mengucapkan banyak terima kasih untuk pihak-pihak yang telah membantu kami. Semoga Allah memberikan imbalan yang setimpal kepada mereka yang telah memberikan bantuan baik secara langsung maupun tidak langsung. Amin Yaa Rabbal ‘Alamiin.



Bandar Lampung, Novembar 2014


Penyusun












DAFTAR ISI
Kata Pengantar.......................................................................................................ii
Daftar Isi...............................................................................................................iii

BAB 1 – PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang      .................................................................................1
1.2 Rumusan Masalah..................................................................................1
1.3  Tujuan Masalah    .................................................................................1

BAB 2 – PEMBAHASAN
2.1 Sejarah Berdiri Dan Perkembangan Asy’ariyah....................................2
2.2 Riwayat Hidup Tokoh-Tokoh Asy’ariyah.............................................4
2.3 Doktrin-Doktrin Teologi Al-Asy’ariyah................................................7

BAB 3 – PENUTUP
3.1 Kesimpulan..........................................................................................10

Daftar Pustaka.......................................................................................................11

BAB I
PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang
Ilmu Kalam biasa disebut dengan beberapa nama, antara lain: ilmu ushuludin, ilmu tauhid, Fiqih al Akbar dan teologi Islam.Sedangkan makna dari Ilmu Kalam sendiri adalah ilmu yang membahas berbagai masalah ketuhanan dengan menggunakan argumentasi logika atau filsafat.
Sumber-sumber ilmu Kalam berdasarkan atau berlandaskan Nash-Nash Alqur’an, Hadits Nabi, pemikiran manusia dan insting.
Munculnya Ilmu Kalam muncul karena persoalan politik yang menyangkut peristiwa pembunuhan Utsman bin Affan yang berbuntut penolakan Muawiyah atas khalifahan Ali bin Abi Thalib sehingga menimbulkan peperangan yang dinamakan Perang Siffin yang berakhir keputusan takhkim (arbitrase).
Kemudian persoalan pertama kali muncul adalah persoalan siapa yang kafir dan siapa yang bukan kafir. Seperti khawarij siapa yang terlibat peristiwa tahkim yakni Ali, Muawiyah Amr ibn Ash, Abu Musa Al Asy’ari adalah kafir. Dalam islam timbul pula aliran teologi yakni Qadariyah,Jabbariyyah .
Dengan ini kami akan menjelaskan salah satu golongan aliran Ilmu Kalam yaitu Asy’ariyyah.

2.1  Rumusan Masalah
1.      Sejarah Berdiri Dan Perkembangan Asy’ariyah?
2.      Riwayat Hidup Tokoh-Tokoh Asy’ariyah?
3.      Doktrin-Doktrin Teologi Al-Asy’ariyah?
3.1  Tujuan Masalah
1.      Dapat diketahui  Sejarah Berdiri Dan Perkembangan Asy’ariyah.
2.      Dapat diketahui  Riwayat Hidup Tokoh-Tokoh Asy’ariyah.
3.      Dapat diketahui  Doktrin-Doktrin Teologi Al-Asy’ariyah.


BAB II
PEMBAHASAN
2.1.  Sejarah Berdiri Dan Perkembangan Asy’ariyah
1.1  Riwayat Hidup Singkat Al-Asy`ari
Nama lengkap Al-Asy`ari adalah Abul Al-Hasan `Ali bin Isma’il bin Abi Basyar Ishaq bin Salim bin Isma`il bin `Abdillah bin Musa bin Bilal bin Abi Burdah Amir bin Abi Musa Al-Asy’ari.[1] Menurut beberapa riwayat, Abu Hasan Al-Asya’ari lahir pada tahun 260 H/874 M di Bashrah. Setelah berusia 40 tahun, ia hijrah ke kota Baghdad dan wafat disana pada tahun 324 H/936 M.[2] Kelompok Asy’ariyah menisbahkan pada namanya sehingga dengan demikian ia menjadi pendiri madzhab Asy’ariyah.
Setelah ayahnya meninggal, ibunya menikah lagi dengan Abu Ali Al-Jubba’i, salah seorang pembesar Muktazilah.[3] Di Bashrah ia belajar ilmu kalam kepada ayah tirinya.Berkat didikan ayah tirinya, Al-Asy`ari kemudian menjadi tokoh Mu`tazilah. Ia juga berguru kepada Abu Ishaq Al-Marwazi, seorang fakih madzhab Syafi’i di Masjid Al-Manshur, Baghdad. Hal itu menjadikan otaknya terasah dengan permasalahan kalam sehingga ia menguasai betul berbagai metodenya dan kelak hal itu menjadi senjata baginya untuk membantah kelompok Mu`tazilah.
Al-Asy’ari menganut paham mu`tazilah hanya sampai usia 40 tahun. Setelah itu, ia mengumumkan di hadapan jamaah masjid Bashrah bahwa dirinya telah meninggalkan paham mu`tazilah dan akan menunjukkan keburukan-keburukanya.[4] Menurut Ibn `Asakir yang melatarbelakangi Al-Asy’ari meninggalkan paham muta`zilah adalah pengakuan Al-Asy’ari telah bermimpi bertemu dengan Rasulullah SAW. Sebanyak tiga kali, yaitu pada malam ke-10, ke-20, ke-30 bulan Ramadan. Dalam tiga kali mimpinya, Rasulullah SAW memperingatkannya agar segera meninggalkan paham Mu`tazilah dan segera membela paham yang telah diriwayatkan dari beliau.[5] Dalam beragama ia berpegang pada Al-Qur’an, Sunnah Nabi, dan apa yang diriwayatkan dari para shahabat, tabi’in, serta imam ahli hadits.
Al- Asy’ari juga mengarang kitab yaitu Maqalat al-Islamiyah ( pendapat-pendapat golongan-golongan Islam ), al-Ibanah ’an Ushul Addiyanah ( keterangan tentang dasar-dasar agama ). Kitab ini berisi tentang kepercayaan ahlu Sunnah dan du mulainya memuji Ahmad bin Hanbal dan menyebutkan kebaikan-kebaikannya. Alluma’ (sorotan ) yang berisi tentang bantahan tentang Ilmu Kalam.
1.2  Perkembangan Teologi Asy’ariyah
Pendirian Al-Asy’ari merupakan tali penghubung antara dua aliran yaitu aliran lama (textralis) dan aliran baru (rasionalis).Setelah wafatnya Abu Hasan Al- Asy’ari wafat, aliran Al-Asy’ariyah perubahan yang cepat yang pada awal mulanya hanya sebagai penghubung kedua aliran tersebut. Namun akhirnya aliran Asy’ariyah lebih condong kepada segi akal fikiran semata dan mereka sudah berani mengeluarkan keputusan bahwa ”akal menjadi naqal (nash)”.Karena sikap tersebut maka ahlu Sunah tidak menerima golongan Asy’ariyah bahkan memusuhinya dan dianggap sesat. Di zaman Saljuk ada sepran menteri yang mendirikan dua sekolah yang diberi dengan namanya yaitu Nizamiyyah di Nizabur dan Bagdad dimana hanya aliran Asy’ariyah yang boleh diajarkan, sejak itu aliran Asy’ariyah menjadi aliran resmi negara dan golongan Asy’ariyah menjadi golongan Ahlu Sunnah.
Sehingga aliran ini disebut aliran Asy’ariyah atau nama lainnya adalah Ahlu Sunah Wal jamaah. Dalam pengertian umum berarti golongan yang bertentangan dengan paham Syi’ah. Aliran ini merupakan campuran atau perpaduan antara paham mu’tazilah, asy’ariyyah dan maturudiyyah.
Kata Al- Sunah sendiri mengandung dua makna yaitu:
Pertama, berarti thariqah atau cara, yaitu cara yang ditempuh para sahabat untuk menerima ayat mutasyabihat, dengan menyarankan sepnuhnya maksud ayat-ayat itu kepada ilmu Allah tanpa berusaha untuk mewakilkannya.
Kedua, berarti al-Hadits,sehingga yang dimaksud ialah mereka percaya dan menerima hadits shahih tanpa menggali maksudnya secara mendalam seperti yang dilakukan oleh mu’tazilah.
Ditambahkan kata Al-Jama’ah di belakang kata Sunnah ialah karena meka selalu menyandarkan pendapat atau berdalil dengan kitab Allah, Sunnah Rasulullah, ijma’, Qiyas.
Selanjutnya Istilah Ahl Al- Sunnah wal Al- Jama’ah secara resmi dan baku dipakai sebagai golongan umat islam yang mencakup empat Imam madzhab, yaitu Imam Abu Hanifah, Imam Malik, Imam Syafi’i dan Ibnu Hanbal.[6]
2.2 Riwayat Hidup Tokoh-Tokoh Asy’ariyah
Untuk lebih mengenal tokoh-tokoh yang memiliki pengaruh dalam teologi Asy’ariyah, berikut akan dinukilkan riwayat hidup mereka.

1.      Al-Qadhi Abu Bakr al-Baqillani
Nama lengkapnya adalah Muhammad bin Thayyib bin Muhammad bin Ja'far bin al-Qasim, yang lebih dikenal dengan al-Qadhi Abu Bakr al-Baqillani, di samping sebagai mutakkalim, beliau juga ahli ushul fikih, lahir di Bashrah dan menetap di Baqdad, tentang tahun kelahirannya tidak ada sumber yang pasti menyebutnya.[7]
Al-Baqillani berguru dari sejumlah ulama di berbagai disiplin ilmu, antara lain: Abu Abdullah bin Muhammad bin Ya'kub bin Mujahid al-Thai al-Maliki (sahabat dan murid al-Asy’ari), Abu Bakr Ahmad bin Ja'far bin Malik al-Qathi'i, Abu Bakr Muhammad bin Abdullah al-Abhari" seorang ahli faqih bermazhab Maliki.[8] Adapun karya beliau, Ibn Katsir menyebutkan, bahwa beliau tidak tidur setiap malam, kecuali setelah menulis 20 lembar, dan tercatat hasil karya beliau antara lain; kitab al-Tabshirah, Daqaiq al-Haqaiq, al-Tamhid fi Ushul al-Fiqh, Syarh al-Ibanah, dan lain-lain. Al-Qadhi 'Ayyadh menyebutkan bahwa karya al-Baqillani ada 99 kitab dalam masalah teologi, ushul, fikih, dan I'jaz al-Qur'an, tapi yang ada sampai saat ini hanya sebagian kecil.
Al-Baqillani wafat pada tahun 403 H di Baqdhad dan dimakamkan di samping makam Ahmad bin Hambal di pekuburan Bab al-Harb.

2.      Al-Iman Al-Haramaen Al-Juwaini
Al-Iman al-Juwaini yang juga dikenal dengan nama Imam al-Haramaen, mempunyai nama lengkap Abu al-Ma'ali Abd al-Malik bin Abu Muhammad Abdullah bin Yusuf bin Abdullah bin Yusuf bin Muhammad bin Hayyuyah al-Juwaini. Seorang ahli ushul dan fikih, beliau bermazhab Syafi'i. Namun, al-Juwaini dinisbahkan pada satu tempat yang ada di Naisabur, beliau bergelar Dhiya al-Din dan disebut Imam al-Haramen karena beliau pernah menetap di Mekah dan Medinah selama empat tahun untuk belajar, berfatwa dan mengumpulkan metode-metode mazbab. Beliau dilahirkan pada tanggal 18 Muharram 419 H.[9]
Al-Iman al-Juwaini belajar dari sejumlah ulama, antara lain dari ayahnya sendiri Abu Muhammad Abdullah bin Yusuf al-Juwaini, seorang ulama al-Syafi'i dan belajar hadis dari ulama-ulama besar yang ada saat itu. Ketika ayahnya meninggal tahun 438 H, beliau menggantikan ayahnya sebagai mufti, di samping juga tetap belajar, dan selalu menghadiri pengajian al-Isfarayaini (wafat tahun 452 H) dan al-Khabbani (wafat tahun 449 H). Disaat terjadinya fitnah antara Ahl al-Sunnah dan Syi'ah di Naisabur pada tahun 446 H beliau pergi meninggalkan negeri ini menuju Baghdad dan kemudian ke Hijaz. Di Hijaz inilah tinggal selama empat tahun.
Setelah berakhirnya fitnah dan naiknya raja Alp Arselan seorang Sunni di kursi pemerintahan sekitar tahun 451 H, al-Imam al-Juwaini kembali ke Naisabur dan mengajar di sekolah al-Nizhamiyah salah satu sekolah yang dibangun oleh Nizham al-Mulk perdana menteri Raja al-Arselan untuk mendukung mazhab Sunni. Pada saat inilah beliau lebih berkosentrasi untuk mengajar dan menyusun kitab dalam membela dan mempertahankan mazhab ahl al-Sunnah. .
Adapun hasil karya beliau, antara lain; kitab al-Nihaya (bidang fikih), al-Syamil dan al-Irsyad (bidang Theologi), al-Burhan dan Talkhish al-Gharib wa al-Irsyad (ushul al-fiqh). Beliau wafat pada tanggal 25 Rabiul akhir 478 H di Naisabur dan dimakamkan di samping ayahnya, rahimahumallah.[10] 

3. Hujjat al-Islam al-Imam al-Ghazali
Nama lengkap beliau adalah Muhammad bin Muhammad bin Ahmad al-Ghazali, beliau bergelar Hujjat al-Islam dan Zain al-Din al-Syarif, Thusiy dan dipanggil dengan Abu Hamid, beliau lahir di Thus tahun 450 H. Beliau hidup dalam keluarga yang sangat sederhana tapi teguh dalam prinsip-prinsip Islam.[11]
 Dari Thus beliau mulai belajar dari salah seorang ulama besar Thus yaitu al-Iman Ahmad bin Muhammad al-Razkani, kemudian beliau merantau ke Jurjan, di sini beliau belajar dari Nashr al-Ismaili. Kemudian beliau kembali ke Thus dan menetap selama tiga tahun, merenung, berpikir, dan menghafal apa yang telah diperolehnya dari Thus. Kemudian beliau ke Naisabur dan berguru pada Imam al-Haramain, disinilah produktivitas beliau sebagai seorang ilmuan nampak, dengan menulis berbagai masalah. Sehingga al-Imam al-Haramain memberi julukan pada beliau dengan "Lautan yang menenggelamkan.".
Sepeninggal al-Imam al-Haramain, al-Ghazali berangkat ke Askar menemui al-wazir Nizham al-Mulk. Wazir ini sangat menghormatinya lalu memberikan kepercayaan pada beliau untuk mengajar di sekolahnya di Baghdad pada tahun 484 H. beliau mengajar sampai tahun 488 H. Mulai bulan Rajab tahun 488 H kehidupan rohani beliau mulai bergejolak, dan ini berlangsung selama enam bulan atau sampai pada awal tahun 489 H. Dari sinilah kehidupan sufi mulai dijalaninya dengan beribadah, kehidupan sufi ini beliau jalani dengan alasan yang sangat logis, sebagaimana yang dikatakan dalam kitabnya al-Munqiz min al-Dhalal.
Para sejarawan berbeda dalam menentukan berapa jumlah karya-karya beliau, tapi yang jelas beliau telah menulis puluhan kitab tentang al-ushul (ushul al-din dan ushul al-fiqh), masalah khilaf, tasawuf, bantahan terhadap aliran kebatinan, filosof dan mutakallimim. Dan jumlah yang disepakati oleh sejarawan sekitar 70 buah karangan, di antaranya: al-Mankhul fi Ta'liqat al-Ushul, al-Mustashfa fi ilm al-ushul, Maqasid al-Falasifah, Tahafut al-Falasifah, Miyar al-Ilm fi 'Ilm al-Mantiq, al-Munqiz min al-Dhalal, Ihya ulum al-Din, dan lain-lain.[12]
Al-Ghazali wafat di Thus pada hari Senin 14 Jumadil akhir 505 H. dan dimakamkan di Zhahir al-Thabaran salah satu tempat di Thus berdampingan dengan makam Harun al-Rasyid.

3.Doktrin-Doktrin Teologi Al-Asy’ari
Pemikiran- Pemikiran Al- Asy’ari yang terpenting adalah berikut ini:
Ø  Tuhan dan Sifat-sifat-Nya
Perbedaan pendapat dikalangan mutakalimin mengenai sifat-sifat Allah tak dapat dihindarkan walupun meereka setuju bahwa mengesakan adalah wajib. Al- Asy’ari berhadapan dengan dua pandangan ekstrim yaitu kelompok mujassimah dan kelompok musyabihbah yang berpendapat bahwa Allah mempunyai semua sifat yang di sebutkan di dalam Al-Qur’an dan Sunnah semua itu harus dipahami secara harfiyah. Dilain pihak,yaitu kelompok Mu’tazilah berpandapat bahwa Allah mempunyai tangan,kaki, telinga atau Arsy atau kursi tidak boleh diartikan secara harfiyah melainkan secara alegoris.
Menghadapi kedua kelompok tersebut maka Al- Asy’ari berpendapat bahwa Allah memang memiliki sifat-sifat itu, seperti mempunyai tangan ,kaki, telinga dan tidak boleh di artikan secara harfiyah melainkan secara simbolis. Al Asy’ari juga berpendapat bahwa sifat Allah itu Unik sehinnga tidak bisa dibandingkan dengan manusia.[13]
Ø  Kebebasan Dalam Berkehendak(Free-Will)
Pandangan Asy`ariyah berbeda dengan pandangan Maturidiyah. Menurut Maturidiyah, perbuatan manusia itu semata-mata diwujudkan oleh manusia itu sendiri. Dalam masalah ini, Maturidiyah lebih dekat dengan Mu`tazilah yang secara tegas mengatakan bahwa semua yang dikerjakan manusia itu semata-mata diwujdukan oleh manusia itu sendiri.
Pada prinsipnya, aliran Asy’ariyah berpendapat bahwa perbuatan manusia diciptakan Allah, sedangkan manusia adalah yang mengupayakannya. Sebab hanya Allah yang mampu menciptakan sesuatu.[14]
Ø  Akal dan Wahyu dan Kriteria Baik dan Buruk
Meskipun Asy`ariyah dan orang-orang Mu`tazilah mengakui pentingnya akal dan wahyu, tetapi berbeda dalam menghadapi persoalan yag memperoleh penjelasan kontradiktif dari akal dan wahyu. Asy`ariyah mengutamakan wahyu, sementara Mu`tazilah mengutamakan akal.[15]
Dalam menetukan baik buruk pun terjadi perbedaan pendapat di antara mereka. Asy`ariyah berpandapat bahwa baik buruk harus berdasarkan wahyu, sedangkan Mu`tazilah mendasarkanya pada akal.
Ø  Tentang Al-Quran
Pandangan Asy`ariyah sama dengan pandangan Maturidiyah. Keduanya sama-sama mengatakan bahwa Al-quran itu adalah Kalam Allah Yang Qadim. Mereka berselisih paham dengan Mu`tazilah yang berpendapat bahwa Al-Quran itu makhluq.[16]
Ø  Melihat Allah
Asy`ariyah tidak sependapat dengan kelompok Zahiriah, yang menyatakan bahwa Allah dapat dilihat di akhirat dan mempercayai bahwa Allah bersemayam di`Arsy. Selai itu, Asy`ariyah tidak sependapat dengan Mu`tazilah yang mengingkari ru`yatulla(Melihat Allah)di akhirat. Asy`ariyah yakin bahwa Allah dapat dilihat di akhirat, tetapi tidak dapat digambarkan, kemungkinan ru`yat dapat terjadi ketika Allah yang menyebabkan dapat dilihat atau Ia menciptakan kemampuan penglihatan manusia untuk melihat-Nya.
Ø  Keadilan
Pada dasarnya Asy`ariyah dan Mu`tazilah setuju bahwa Allah itu adil. Mereka hanya berbeda dalam cara pandang makna keadilan. Jika Mu`tazilah mengartikan keadilan dari visi manusia yang memiliki, sedangkan Asy`ariyah dari visi Allah adalah pemilik mutlak.
Ø  Tentang Pelaku Dosa Besar
Terhadap pelaku dosa besar, Al- Asy’ari tidak mengkafirkan orang- orang yang sujud ke Baitullah, walupun melakukan dosa besar seperti berzina atau mencuri. Mereka masih beriman dengan Iman yang mereka miliki.
Menurut Al- asy’ari, bagi pelaku dosa besar apabila meninggal dan tidak sempat bertobat, maka bergantung pada kebijakan Allah SWT. Allah bisa saja mengampuni dosa besar atau pelaku dosa besar mendapat syafaat dari Nabi SAW sehingga terbebas dari siksa neraka atau kebalikannya, Allah menyiksanya di neraka sesuai dosa yang dilakukannya.[17]
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Aliran Asy’ariyah istilah lain dari Ahlu Sunah Wal Al- Jama’ah merupakan salah satu dari beberapa aliran kalam. Aliran Asy’ariyah menjadi penengah antara aliran Jabbariyyah dan Mu’tazilah, Karena perbuatan manusia mempunyai kehendak dan daya. Asy ariyah menegaskan pula bahwa perbuatan dosa besar tidak mengkafirkan.dan tidak gugur ke islamannya. Apabila pelaku dosa meninggal dan belum sempat bertobat maka tergantung kebijakan dari Allah. Bila mendapat syafaat Nabi SAW bisa saja mengampuni dosanya.sehingga terbebas dari siksa Neraka atau kebalikannya mendapat siksa neraka.Tidak seperti pemahaman Mu’tazilah yaitu orang yang melakukan dosa besar akan berada di dua tempat (Manzilatun baina manzilatain).Top of Form


















DAFTAR PUSTAKA

Nasution,Harun.1986.Teologi Islam Aliran-aliran Sejarah Analisa Perbandingan.Jakarata:Ui-Press.
Qadir,C.A.1991.Filsafat Dan Ilmu Pengetahuan Dalam Islam.Jakarta:Yayasan Obor.
Rozak,Abdul dan Anwar,Rosihon.2012.Ilmu Kalam Edisi Revisi.Bandung : Pustaka Setia.




[1] Muhammad `Imarah, Tayyarat Al-Fikr Al-Islami, Dar Asy-Syuruq, Beirut, 1911, hlm. 163.
[2] Abdurrahman Badawi, Madzahib Al-Islamiyah, Dar `Ilm li Al-Malayin, 1984, hlm. 497.
[3] `Imarah, loc. cit.
[4] Ahmad Hanafi, Pengantar Theologi Islam, Al-Husna, Jakarta, 1992, hlm. 104.
[5] Jalal Muhammad Musa, Nasy`at Al-Asya`irah Wa Tathawwuruha, Dar Kitab Al-Lubani, Beirut, 1975, hlm. 172-173.
[6] Abdullah Musthafa Al-Maraghi, Al-Fath al Mubin fi Tabaqat al-Ushuliyyin. juz 1. Cairo: Abd al-Hamid Hanafi. t.t. hlm. 233.
[7] Ibnu Katsir,  al-Bidayah wa al-Nihayah. juz VII. Beirut: Dar al-Fikr. 1996, Cet. I, hlm. 112.
[8] Ibnu katsir, op.cit.. hlm. 111
[9] Ibnu Katsir, loc.cit., h. 261
[10] Abdullah Musthafa Al-Maraghi, op.cit., h. 274-275
[11] Ibid., hal. 8
[12] Abd. Salam Al-Rifa'i Ishla, Taqrib al-Turats "Ihya Ulum al-Din" li al-Imam al-Ghazali. Cet. I. Cairo: Markaz al-Ahram li al-Taljamah wa wal-Nasyr. 1988. h. 31
[13] C.A. Qadir, Filsafat Dan Ilmu Pengetahuan Dalam Islam, Yayasan Obor, Jakarta, 1991,Hlm. 67-68.
[14] Ibid, hlm. 68.
[15] Qadir, Op. Cit, hlm. 70.
[16] Harun Nasution, Teologi Islam Aliran-aliran Sejarah Analisa Sejarah Perbandingan, Ui-Press, Jakarta, 1972, hlm. 69.
[17] Abd Al-Qahir bbin Thahir bin Muhammad Al-Bagdadi, Al-Farq Bain Al-Firq, Mesir, t.t, hlm. 351.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar