Karya Ilmiah
MAKALAH
ILMU KALAM
ALIRAN ASY`ARIYYAH
Dosen:Mislaiana,
M.Pd.I
Disusun oleh:
Nama:Santi Rianti
NPM:1411080122
Kelas: B

JURUSAN BIMBINGAN DAN KONSELING
FAKULTAS TARBIYAH DAN KEGURUAN
IAIN RADEN INTAN
T.A 2014M/1436H
KATA PENGANTAR
Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang
Maha Esa atas selesainya Makalah Ilmu Kalam tentang Aliran Asy`Ariyah. Dengan
adanya makalah ini kita dapat mengetahui mengenai Aliran Asy`Ariyah.
Penulisan makalah ini adalah salah satu tugas
mata kuliah Ilmu Kalam. Dalam penulisan makalah ini kami merasa masih banyak
kekurangan baik dalam teknis penulisan maupun materi, mengingat kemampuan yang
dimiliki kami. Serta kami mengucapkan banyak terima kasih untuk pihak-pihak
yang telah membantu kami. Semoga Allah memberikan imbalan yang setimpal kepada
mereka yang telah memberikan bantuan baik secara langsung maupun tidak
langsung. Amin Yaa Rabbal ‘Alamiin.
Bandar Lampung,
Novembar 2014
Penyusun
DAFTAR
ISI
Kata
Pengantar.......................................................................................................ii
Daftar Isi...............................................................................................................iii
BAB 1 – PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang .................................................................................1
1.2 Rumusan Masalah..................................................................................1
1.3 Tujuan Masalah .................................................................................1
BAB 2 – PEMBAHASAN
2.1 Sejarah Berdiri Dan Perkembangan Asy’ariyah....................................2
2.2 Riwayat Hidup
Tokoh-Tokoh Asy’ariyah.............................................4
2.3 Doktrin-Doktrin Teologi Al-Asy’ariyah................................................7
BAB 3 – PENUTUP
3.1
Kesimpulan..........................................................................................10
Daftar
Pustaka.......................................................................................................11
BAB I
PENDAHULUAN
1.1
Latar Belakang
Ilmu Kalam biasa disebut dengan beberapa nama,
antara lain: ilmu ushuludin, ilmu tauhid, Fiqih al Akbar dan teologi
Islam.Sedangkan makna dari Ilmu Kalam sendiri adalah ilmu yang membahas
berbagai masalah ketuhanan dengan menggunakan argumentasi logika atau filsafat.
Sumber-sumber ilmu Kalam berdasarkan atau
berlandaskan Nash-Nash Alqur’an, Hadits Nabi, pemikiran manusia dan insting.
Munculnya Ilmu Kalam muncul karena persoalan politik yang menyangkut peristiwa pembunuhan Utsman bin Affan yang berbuntut penolakan Muawiyah atas khalifahan Ali bin Abi Thalib sehingga menimbulkan peperangan yang dinamakan Perang Siffin yang berakhir keputusan takhkim (arbitrase).
Munculnya Ilmu Kalam muncul karena persoalan politik yang menyangkut peristiwa pembunuhan Utsman bin Affan yang berbuntut penolakan Muawiyah atas khalifahan Ali bin Abi Thalib sehingga menimbulkan peperangan yang dinamakan Perang Siffin yang berakhir keputusan takhkim (arbitrase).
Kemudian persoalan pertama kali muncul adalah
persoalan siapa yang kafir dan siapa yang bukan kafir. Seperti khawarij siapa
yang terlibat peristiwa tahkim yakni Ali, Muawiyah Amr ibn Ash, Abu Musa Al
Asy’ari adalah kafir. Dalam islam timbul pula aliran teologi yakni
Qadariyah,Jabbariyyah .
Dengan ini kami akan menjelaskan salah satu golongan aliran Ilmu Kalam yaitu Asy’ariyyah.
Dengan ini kami akan menjelaskan salah satu golongan aliran Ilmu Kalam yaitu Asy’ariyyah.
2.1
Rumusan Masalah
1. Sejarah Berdiri Dan
Perkembangan Asy’ariyah?
2. Riwayat Hidup
Tokoh-Tokoh Asy’ariyah?
3. Doktrin-Doktrin
Teologi Al-Asy’ariyah?
3.1 Tujuan Masalah
1. Dapat
diketahui Sejarah Berdiri Dan Perkembangan Asy’ariyah.
2.
Dapat diketahui Riwayat Hidup Tokoh-Tokoh Asy’ariyah.
3.
Dapat diketahui Doktrin-Doktrin Teologi Al-Asy’ariyah.
BAB II
PEMBAHASAN
PEMBAHASAN
2.1.
Sejarah Berdiri Dan Perkembangan Asy’ariyah
1.1
Riwayat
Hidup Singkat Al-Asy`ari
Nama lengkap Al-Asy`ari adalah Abul Al-Hasan
`Ali bin Isma’il bin Abi Basyar Ishaq bin Salim bin Isma`il bin `Abdillah bin
Musa bin Bilal bin Abi Burdah Amir bin Abi Musa Al-Asy’ari.[1] Menurut
beberapa riwayat, Abu Hasan Al-Asya’ari lahir pada tahun 260 H/874 M di
Bashrah. Setelah berusia 40 tahun, ia hijrah ke kota Baghdad dan wafat disana
pada tahun 324 H/936 M.[2] Kelompok
Asy’ariyah menisbahkan pada namanya sehingga dengan demikian ia menjadi pendiri
madzhab Asy’ariyah.
Setelah ayahnya meninggal, ibunya menikah lagi
dengan Abu Ali Al-Jubba’i, salah seorang pembesar Muktazilah.[3] Di
Bashrah ia belajar ilmu kalam kepada ayah tirinya.Berkat didikan ayah tirinya,
Al-Asy`ari kemudian menjadi tokoh Mu`tazilah. Ia juga berguru kepada Abu Ishaq
Al-Marwazi, seorang fakih madzhab Syafi’i di Masjid Al-Manshur, Baghdad. Hal
itu menjadikan otaknya terasah dengan permasalahan kalam sehingga ia menguasai
betul berbagai metodenya dan kelak hal itu menjadi senjata baginya untuk
membantah kelompok Mu`tazilah.
Al-Asy’ari menganut paham mu`tazilah hanya
sampai usia 40 tahun. Setelah itu, ia mengumumkan di hadapan jamaah masjid
Bashrah bahwa dirinya telah meninggalkan paham mu`tazilah dan akan menunjukkan
keburukan-keburukanya.[4] Menurut
Ibn `Asakir yang melatarbelakangi Al-Asy’ari meninggalkan paham muta`zilah
adalah pengakuan Al-Asy’ari telah bermimpi bertemu dengan Rasulullah SAW.
Sebanyak tiga kali, yaitu pada malam ke-10, ke-20, ke-30 bulan Ramadan. Dalam
tiga kali mimpinya, Rasulullah SAW memperingatkannya agar segera meninggalkan
paham Mu`tazilah dan segera membela paham yang telah diriwayatkan dari beliau.[5] Dalam
beragama ia berpegang pada Al-Qur’an, Sunnah Nabi, dan apa yang diriwayatkan
dari para shahabat, tabi’in, serta imam ahli hadits.
Al- Asy’ari juga mengarang kitab yaitu Maqalat
al-Islamiyah ( pendapat-pendapat golongan-golongan Islam ), al-Ibanah ’an Ushul
Addiyanah ( keterangan tentang dasar-dasar agama ). Kitab ini berisi tentang
kepercayaan ahlu Sunnah dan du mulainya memuji Ahmad bin Hanbal dan menyebutkan
kebaikan-kebaikannya. Alluma’ (sorotan ) yang berisi tentang bantahan tentang
Ilmu Kalam.
1.2 Perkembangan
Teologi Asy’ariyah
Pendirian Al-Asy’ari merupakan tali penghubung
antara dua aliran yaitu aliran lama (textralis) dan aliran baru
(rasionalis).Setelah wafatnya Abu Hasan Al- Asy’ari wafat, aliran Al-Asy’ariyah
perubahan yang cepat yang pada awal mulanya hanya sebagai penghubung kedua
aliran tersebut. Namun akhirnya aliran Asy’ariyah lebih condong kepada segi
akal fikiran semata dan mereka sudah berani mengeluarkan keputusan bahwa ”akal menjadi
naqal (nash)”.Karena sikap tersebut maka ahlu Sunah tidak menerima golongan
Asy’ariyah bahkan memusuhinya dan dianggap sesat. Di zaman Saljuk ada sepran
menteri yang mendirikan dua sekolah yang diberi dengan namanya yaitu Nizamiyyah
di Nizabur dan Bagdad dimana hanya aliran Asy’ariyah yang boleh diajarkan,
sejak itu aliran Asy’ariyah menjadi aliran resmi negara dan golongan Asy’ariyah
menjadi golongan Ahlu Sunnah.
Sehingga aliran ini disebut aliran Asy’ariyah
atau nama lainnya adalah Ahlu Sunah Wal jamaah. Dalam pengertian umum berarti
golongan yang bertentangan dengan paham Syi’ah. Aliran ini merupakan campuran
atau perpaduan antara paham mu’tazilah, asy’ariyyah dan maturudiyyah.
Kata Al- Sunah sendiri mengandung dua makna
yaitu:
Pertama, berarti thariqah atau cara, yaitu cara yang ditempuh para sahabat untuk menerima ayat mutasyabihat, dengan menyarankan sepnuhnya maksud ayat-ayat itu kepada ilmu Allah tanpa berusaha untuk mewakilkannya.
Kedua, berarti al-Hadits,sehingga yang dimaksud ialah mereka percaya dan menerima hadits shahih tanpa menggali maksudnya secara mendalam seperti yang dilakukan oleh mu’tazilah.
Pertama, berarti thariqah atau cara, yaitu cara yang ditempuh para sahabat untuk menerima ayat mutasyabihat, dengan menyarankan sepnuhnya maksud ayat-ayat itu kepada ilmu Allah tanpa berusaha untuk mewakilkannya.
Kedua, berarti al-Hadits,sehingga yang dimaksud ialah mereka percaya dan menerima hadits shahih tanpa menggali maksudnya secara mendalam seperti yang dilakukan oleh mu’tazilah.
Ditambahkan kata Al-Jama’ah di belakang kata
Sunnah ialah karena meka selalu menyandarkan pendapat atau berdalil dengan
kitab Allah, Sunnah Rasulullah, ijma’, Qiyas.
Selanjutnya Istilah Ahl Al- Sunnah wal Al-
Jama’ah secara resmi dan baku dipakai sebagai golongan umat islam yang mencakup
empat Imam madzhab, yaitu Imam Abu Hanifah, Imam Malik, Imam Syafi’i dan Ibnu
Hanbal.[6]
2.2 Riwayat Hidup Tokoh-Tokoh Asy’ariyah
Untuk lebih mengenal tokoh-tokoh yang memiliki
pengaruh dalam teologi Asy’ariyah, berikut akan dinukilkan riwayat hidup
mereka.
1.
Al-Qadhi Abu Bakr al-Baqillani
Nama lengkapnya adalah Muhammad bin Thayyib bin
Muhammad bin Ja'far bin al-Qasim, yang lebih dikenal dengan al-Qadhi Abu Bakr
al-Baqillani, di samping sebagai mutakkalim, beliau juga ahli ushul fikih,
lahir di Bashrah dan menetap di Baqdad, tentang tahun kelahirannya tidak ada
sumber yang pasti menyebutnya.[7]
Al-Baqillani berguru dari sejumlah ulama di
berbagai disiplin ilmu, antara lain: Abu Abdullah bin Muhammad bin Ya'kub bin
Mujahid al-Thai al-Maliki (sahabat dan murid al-Asy’ari), Abu Bakr Ahmad bin
Ja'far bin Malik al-Qathi'i, Abu Bakr Muhammad bin Abdullah al-Abhari"
seorang ahli faqih bermazhab Maliki.[8] Adapun karya
beliau, Ibn Katsir menyebutkan, bahwa beliau tidak tidur setiap malam, kecuali
setelah menulis 20 lembar, dan tercatat hasil karya beliau antara lain; kitab
al-Tabshirah, Daqaiq al-Haqaiq, al-Tamhid fi Ushul al-Fiqh, Syarh
al-Ibanah, dan lain-lain. Al-Qadhi 'Ayyadh menyebutkan bahwa karya al-Baqillani
ada 99 kitab dalam masalah teologi, ushul, fikih, dan I'jaz al-Qur'an, tapi
yang ada sampai saat ini hanya sebagian kecil.
Al-Baqillani wafat pada tahun 403 H di Baqdhad
dan dimakamkan di samping makam Ahmad bin Hambal di pekuburan Bab al-Harb.
2.
Al-Iman Al-Haramaen Al-Juwaini
Al-Iman al-Juwaini yang juga dikenal dengan
nama Imam al-Haramaen, mempunyai nama lengkap Abu al-Ma'ali Abd al-Malik bin
Abu Muhammad Abdullah bin Yusuf bin Abdullah bin Yusuf bin Muhammad bin
Hayyuyah al-Juwaini. Seorang ahli ushul dan fikih, beliau bermazhab Syafi'i.
Namun, al-Juwaini dinisbahkan pada satu tempat yang ada di Naisabur, beliau bergelar
Dhiya al-Din dan disebut Imam al-Haramen karena beliau pernah menetap di
Mekah dan Medinah selama empat tahun untuk belajar, berfatwa dan mengumpulkan
metode-metode mazbab. Beliau dilahirkan pada tanggal 18 Muharram 419 H.[9]
Al-Iman al-Juwaini belajar dari sejumlah ulama,
antara lain dari ayahnya sendiri Abu Muhammad Abdullah bin Yusuf al-Juwaini,
seorang ulama al-Syafi'i dan belajar hadis dari ulama-ulama besar yang ada saat
itu. Ketika ayahnya meninggal tahun 438 H, beliau menggantikan ayahnya sebagai
mufti, di samping juga tetap belajar, dan selalu menghadiri pengajian al-Isfarayaini (wafat tahun 452 H) dan al-Khabbani (wafat tahun 449 H). Disaat
terjadinya fitnah antara Ahl al-Sunnah dan Syi'ah di Naisabur
pada tahun 446 H beliau pergi meninggalkan negeri ini menuju Baghdad dan
kemudian ke Hijaz. Di Hijaz inilah tinggal selama empat tahun.
Setelah berakhirnya fitnah dan naiknya raja Alp
Arselan seorang Sunni di kursi pemerintahan sekitar tahun 451 H, al-Imam
al-Juwaini kembali ke Naisabur dan mengajar di sekolah al-Nizhamiyah salah satu
sekolah yang dibangun oleh Nizham al-Mulk perdana menteri Raja al-Arselan untuk
mendukung mazhab Sunni. Pada saat inilah beliau lebih berkosentrasi untuk
mengajar dan menyusun kitab dalam membela dan mempertahankan mazhab ahl al-Sunnah. .
Adapun hasil karya beliau, antara lain; kitab al-Nihaya (bidang fikih), al-Syamil dan al-Irsyad (bidang Theologi), al-Burhan
dan Talkhish al-Gharib wa al-Irsyad
(ushul al-fiqh). Beliau wafat pada tanggal 25 Rabiul akhir 478 H di Naisabur
dan dimakamkan di samping ayahnya, rahimahumallah.[10]
3. Hujjat al-Islam al-Imam al-Ghazali
Nama lengkap beliau adalah Muhammad bin
Muhammad bin Ahmad al-Ghazali, beliau bergelar Hujjat al-Islam dan Zain al-Din
al-Syarif, Thusiy dan dipanggil dengan Abu Hamid, beliau lahir di Thus
tahun 450 H. Beliau hidup dalam keluarga yang sangat sederhana tapi teguh dalam
prinsip-prinsip Islam.[11]
Dari
Thus beliau mulai belajar dari salah seorang ulama besar Thus yaitu al-Iman
Ahmad bin Muhammad al-Razkani, kemudian beliau merantau ke Jurjan, di sini
beliau belajar dari Nashr al-Ismaili. Kemudian beliau kembali ke Thus dan
menetap selama tiga tahun, merenung, berpikir, dan menghafal apa yang telah
diperolehnya dari Thus. Kemudian beliau ke Naisabur dan berguru pada Imam
al-Haramain, disinilah produktivitas beliau sebagai seorang ilmuan nampak,
dengan menulis berbagai masalah. Sehingga al-Imam al-Haramain memberi julukan
pada beliau dengan "Lautan yang menenggelamkan.".
Sepeninggal al-Imam al-Haramain, al-Ghazali berangkat
ke Askar menemui al-wazir Nizham al-Mulk. Wazir ini sangat menghormatinya lalu
memberikan kepercayaan pada beliau untuk mengajar di sekolahnya di Baghdad pada
tahun 484 H. beliau mengajar sampai tahun 488 H. Mulai bulan Rajab tahun 488 H
kehidupan rohani beliau mulai bergejolak, dan ini berlangsung selama enam bulan
atau sampai pada awal tahun 489 H. Dari sinilah kehidupan sufi mulai
dijalaninya dengan beribadah, kehidupan sufi ini beliau jalani dengan alasan
yang sangat logis, sebagaimana yang dikatakan dalam kitabnya al-Munqiz min
al-Dhalal.
Para sejarawan berbeda dalam menentukan berapa
jumlah karya-karya beliau, tapi yang jelas beliau telah menulis puluhan kitab
tentang al-ushul (ushul al-din dan ushul al-fiqh), masalah khilaf, tasawuf,
bantahan terhadap aliran kebatinan, filosof dan mutakallimim. Dan jumlah yang
disepakati oleh sejarawan sekitar 70 buah karangan, di antaranya: al-Mankhul fi Ta'liqat al-Ushul,
al-Mustashfa fi ilm al-ushul, Maqasid al-Falasifah, Tahafut al-Falasifah, Miyar
al-Ilm fi 'Ilm al-Mantiq, al-Munqiz min al-Dhalal, Ihya ulum al-Din, dan
lain-lain.[12]
Al-Ghazali wafat di Thus pada hari Senin 14
Jumadil akhir 505 H. dan dimakamkan di Zhahir al-Thabaran salah satu tempat di
Thus berdampingan dengan makam Harun al-Rasyid.
3.Doktrin-Doktrin Teologi Al-Asy’ari
Pemikiran- Pemikiran Al- Asy’ari yang terpenting adalah berikut ini:
Pemikiran- Pemikiran Al- Asy’ari yang terpenting adalah berikut ini:
Ø Tuhan dan Sifat-sifat-Nya
Perbedaan
pendapat dikalangan mutakalimin mengenai sifat-sifat Allah tak dapat
dihindarkan walupun meereka setuju bahwa mengesakan adalah wajib. Al- Asy’ari
berhadapan dengan dua pandangan ekstrim yaitu kelompok mujassimah dan kelompok
musyabihbah yang berpendapat bahwa Allah mempunyai semua sifat yang di sebutkan
di dalam Al-Qur’an dan Sunnah semua itu harus dipahami secara harfiyah. Dilain
pihak,yaitu kelompok Mu’tazilah berpandapat bahwa Allah mempunyai tangan,kaki,
telinga atau Arsy atau kursi tidak boleh diartikan secara harfiyah melainkan
secara alegoris.
Menghadapi
kedua kelompok tersebut maka Al- Asy’ari berpendapat bahwa Allah memang
memiliki sifat-sifat itu, seperti mempunyai tangan ,kaki, telinga dan tidak
boleh di artikan secara harfiyah melainkan secara simbolis. Al Asy’ari juga
berpendapat bahwa sifat Allah itu Unik sehinnga tidak bisa dibandingkan dengan
manusia.[13]
Ø Kebebasan Dalam Berkehendak(Free-Will)
Pandangan
Asy`ariyah berbeda dengan pandangan Maturidiyah. Menurut Maturidiyah, perbuatan
manusia itu semata-mata diwujudkan oleh manusia itu sendiri. Dalam masalah ini,
Maturidiyah lebih dekat dengan Mu`tazilah yang secara tegas mengatakan bahwa
semua yang dikerjakan manusia itu semata-mata diwujdukan oleh manusia itu
sendiri.
Pada
prinsipnya, aliran Asy’ariyah berpendapat bahwa perbuatan manusia diciptakan
Allah, sedangkan manusia adalah yang mengupayakannya. Sebab hanya Allah yang
mampu menciptakan sesuatu.[14]
Ø Akal dan Wahyu dan Kriteria Baik dan Buruk
Meskipun Asy`ariyah dan orang-orang Mu`tazilah
mengakui pentingnya akal dan wahyu, tetapi berbeda dalam menghadapi persoalan
yag memperoleh penjelasan kontradiktif dari akal dan wahyu. Asy`ariyah
mengutamakan wahyu, sementara Mu`tazilah mengutamakan akal.[15]
Dalam menetukan baik buruk pun terjadi
perbedaan pendapat di antara mereka. Asy`ariyah berpandapat bahwa baik buruk
harus berdasarkan wahyu, sedangkan Mu`tazilah mendasarkanya pada akal.
Ø Tentang Al-Quran
Pandangan
Asy`ariyah sama dengan pandangan Maturidiyah. Keduanya sama-sama mengatakan
bahwa Al-quran itu adalah Kalam Allah Yang Qadim. Mereka berselisih paham
dengan Mu`tazilah yang berpendapat bahwa Al-Quran itu makhluq.[16]
Ø Melihat Allah
Asy`ariyah
tidak sependapat dengan kelompok Zahiriah, yang menyatakan bahwa Allah dapat
dilihat di akhirat dan mempercayai bahwa Allah bersemayam di`Arsy. Selai itu,
Asy`ariyah tidak sependapat dengan Mu`tazilah yang mengingkari ru`yatulla(Melihat Allah)di akhirat.
Asy`ariyah yakin bahwa Allah dapat dilihat di akhirat, tetapi tidak dapat
digambarkan, kemungkinan ru`yat dapat
terjadi ketika Allah yang menyebabkan dapat dilihat atau Ia menciptakan
kemampuan penglihatan manusia untuk melihat-Nya.
Ø Keadilan
Pada dasarnya Asy`ariyah dan Mu`tazilah setuju
bahwa Allah itu adil. Mereka hanya berbeda dalam cara pandang makna keadilan.
Jika Mu`tazilah mengartikan keadilan dari visi manusia yang memiliki, sedangkan
Asy`ariyah dari visi Allah adalah pemilik mutlak.
Ø Tentang Pelaku Dosa Besar
Terhadap pelaku
dosa besar, Al- Asy’ari tidak mengkafirkan orang- orang yang sujud ke
Baitullah, walupun melakukan dosa besar seperti berzina atau mencuri. Mereka
masih beriman dengan Iman yang mereka miliki.
Menurut Al- asy’ari, bagi pelaku dosa besar apabila meninggal dan tidak sempat bertobat, maka bergantung pada kebijakan Allah SWT. Allah bisa saja mengampuni dosa besar atau pelaku dosa besar mendapat syafaat dari Nabi SAW sehingga terbebas dari siksa neraka atau kebalikannya, Allah menyiksanya di neraka sesuai dosa yang dilakukannya.[17]
Menurut Al- asy’ari, bagi pelaku dosa besar apabila meninggal dan tidak sempat bertobat, maka bergantung pada kebijakan Allah SWT. Allah bisa saja mengampuni dosa besar atau pelaku dosa besar mendapat syafaat dari Nabi SAW sehingga terbebas dari siksa neraka atau kebalikannya, Allah menyiksanya di neraka sesuai dosa yang dilakukannya.[17]
BAB III
PENUTUP
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Aliran Asy’ariyah istilah lain dari Ahlu Sunah
Wal Al- Jama’ah merupakan salah satu dari beberapa aliran kalam. Aliran
Asy’ariyah menjadi penengah antara aliran Jabbariyyah dan Mu’tazilah, Karena
perbuatan manusia mempunyai kehendak dan daya. Asy ariyah menegaskan pula bahwa
perbuatan dosa besar tidak mengkafirkan.dan tidak gugur ke islamannya. Apabila
pelaku dosa meninggal dan belum sempat bertobat maka tergantung kebijakan dari
Allah. Bila mendapat syafaat Nabi SAW bisa saja mengampuni dosanya.sehingga
terbebas dari siksa Neraka atau kebalikannya mendapat siksa neraka.Tidak
seperti pemahaman Mu’tazilah yaitu orang yang melakukan dosa besar akan berada di
dua tempat (Manzilatun baina manzilatain).
DAFTAR
PUSTAKA
Nasution,Harun.1986.Teologi Islam Aliran-aliran
Sejarah Analisa Perbandingan.Jakarata:Ui-Press.
Qadir,C.A.1991.Filsafat
Dan Ilmu Pengetahuan Dalam Islam.Jakarta:Yayasan Obor.
Rozak,Abdul dan Anwar,Rosihon.2012.Ilmu Kalam Edisi Revisi.Bandung :
Pustaka Setia.
[5] Jalal
Muhammad Musa, Nasy`at Al-Asya`irah Wa
Tathawwuruha, Dar Kitab Al-Lubani, Beirut, 1975, hlm. 172-173.
[6]
Abdullah Musthafa Al-Maraghi, Al-Fath al Mubin fi Tabaqat al-Ushuliyyin. juz
1. Cairo: Abd al-Hamid Hanafi. t.t. hlm. 233.
[7]
Ibnu Katsir, al-Bidayah wa
al-Nihayah. juz VII. Beirut: Dar al-Fikr. 1996, Cet. I, hlm. 112.
[9]
Ibnu Katsir, loc.cit., h. 261
[10]
Abdullah Musthafa Al-Maraghi, op.cit.,
h. 274-275
[11] Ibid., hal. 8
[12]
Abd. Salam Al-Rifa'i Ishla, Taqrib al-Turats "Ihya Ulum al-Din" li
al-Imam al-Ghazali. Cet. I. Cairo: Markaz al-Ahram li al-Taljamah wa
wal-Nasyr. 1988. h. 31
[16] Harun
Nasution, Teologi Islam Aliran-aliran
Sejarah Analisa Sejarah Perbandingan, Ui-Press, Jakarta, 1972, hlm. 69.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar