Jumat, 05 Mei 2017

ilmu kalam, tassawuf, filsafat



BAB I
PENDAHULUAN

1.      Latar Belakang
Ilmu Kalam, Filsafat dan Tasawuf adalah ilmu yang dilahirkan dari persentuhan umat Islam dengan berbagai masalah sosiocultural yang dihadapi oleh masyarakat yang sedang berkembang kala itu mencari dan mempertahankan kebenaran. Dari itu pula lahirlah para pakar dunia yang telah berhasil mempertahankan kebenaran mereka masing – masing, walaupundengan cara atau jalan yang berbeda. Maka dari itu pada makalah ini akan membahas hakekat Ilmu Kalam, Tasawuf dan Filsafat beserta hubungan ketiganya.

2.      Rumusan Masalah
2.1  Pengertian Ilmu Kalam, Tasawuf, Filsafat?
2.2  Persamaan Ilmu Kalam, Tasawuf, Filsafat?
2.3  Perbedaan Ilmu Kalam, Tasawuf, Filsafat?
2.4  Bagaimana hubungan Ilmu Kalam, Tasawuf dan Filsafat?

3.      Tujuan Masalah
3.1  Mengetahui dan memahami ilmu kalam, tasawuf, Filsafat
3.2  Mengetahui dan memahami Persamaan Ilmu Kalam, Tasawuf, Filsafat
3.3  Mengetahui dan memahami Perbedaan Ilmu Kalam, Tasawuf, Filsafat
3.4  Mengetahui dan memahami hubungan Ilmu Kalam, Tasawuf dan        Filsafat








BAB II
PEMBAHASAN
2.1  Pengertian
Ø  Ilmu Kalam
Ilmu Kalam ialah Ilmu berisi alasan-alasan yang mempertahankan kepercayaan – kepercayaan iman dengan menggunakan dalil-dalil pikiran dan berisi bantahan terhadap orang-orang yang menyeleweng dari kepercayaan – kepercayaan aliran golongan salaf dan ahli sunnah.[1]
Selain itu ada pula yang mengatakan bahwa Ilmu Kalam ialah ilmu yang membicarakan baagaimana menetapkan kepercayaan – kepercayaan keaagamaan dengan bukti yang meyakinkan.[2] Di dalam ilmu ini dibahas tentang car ma’rifat (mengetahui secara mendalam) tentang sifat-sifat Allah dan para Rasul-Nya dengan menggunakan dalil-dalil yang pasti guna mencapai kebahagiaan tentang hidup abadi. Ilmu ini termasuk induk ilmu agama yang paling utama. Bahkan paling mulia, karena berkaitan dengan Zat Allah, Zat para Rasul-Nya.[3]
Ø  Pengertian Ilmu Filsafat
Kata filsafat berasal dari kata philo yang berarti cinta, dan kata sophos yang berarti ilmu atau hikmah. Dalam hubungan ini, Al-Syaibani berpendapat bahwa filsafat bukanlah hikmah itu sendiri, melainkan cinta terhadap hikmah dan berusaha mendapatkannya, memusatkan perhatian padanya dan menciptakan sikap positif terhadapnya. Untuk ini ia mengatakan bahwa filsafat berarti mencari hakikat sesuatu, berusaha menautkan sebab dan akibat, dan berusaha menafsirkan pengalaman – pengalaman manusia.[4]
Ø  Pengertian Ilmu Tasawuf
Tasawuf dapat diartikan mencari jalan untuk memperoleh kecintaan dan kesempurnaan rohani. Selain itu dapat pula diartikan berpindah dari kehidupan biasa menjadi kehidupan shufi (yang di sucikan) yang selalu tekun beribadah dan jernih, bersih jiwa dan hatinya, ikhlas karena Allah SWT semata-mata.[5]
Timbulnya ilmu tasawuf adalah disebabkan karena orang senantiasa kekal mengerjakan amal ibadah, mendekatkan hati kepada Allah, dan berpaling dari kemegahan, tidak menaruh perhatian terhadap dunia.

2.2  Titik Persamaan
Ilmu Kalam, Filsafat dan tasawuf mempunyai kemiripan objek kajian.
Ø  Objek kajian ilmu kalam adalah ketuhanan dan segala sesuatu yang berkaitan dengan-Nya.
Ø  Objek kajian filsafat adalah masalah ketuhanan disamping masalah alam, manusia dan segala sesuatu yang ada.
Ø  objek kajian tasawuf adalah Tuhan, yakni upaya – upaya pendekatan terhadap-Nya.
Jadi, dilihat dari aspek objeknya, ketiga ilmu itu membahas masalah yang berkaitan dengan ketuhanan.[6] Baik ilmu kalam, filsafat maupun tasawuf berurusan dengan hal yang sama, yaitu kebenaran.
Ø  Ilmu kalam, dengan metodenya sendiri berusaha mencari kebenaran tentang Tuhan dan yang berkaitan dengan-Nya.
Ø  Filsafat dengan wataknya sendiri pula, berusaha menghampiri kebenaran, baik tentang alam maupun manusia (yang belum atau tidak dapat di jangkau oleh ilmu pengetahuan karena berada di luar atau di atas jangkauannya), atau tentang Tuhan.
Ø  Tasawuf -juga dengan metodenya yang tipikal- berusaha menghampiri kebenaran yang berkaitan dengan perjalanan spiritual menuju Tuhan.

2.3 Titik Perbedaan
Perbedaan diantara ketiga ilmu tersebut terletak pada aspek metodologinya
Ø  Ilmu Kalam, sebagai ilmu yang menggunakan logika berfungsi juga untuk mempertahankan keyakinan ajaran agama, yang sangat tampak nilai – nilai apologinya. Pada dasarnya ilmu ini menggunakan metode dialektika (jadaliah) dikenal juga dengan istilah dialog keagamaan. Sebagai sebuah dialog keagamaan, ilmu kalam berisi keyakinan – keyakinan kebenaran agama yang dipertahankan melalui argument – argument rasional. Sebagian ilmuwan bahkan mengatakan bahwa ilmu ini berisi keyakinan – keyakinan kebenaran, praktek dan pelaksanaan ajaran agama, serta pengalaman keagamaan yang dijelaskan dengan pendekatan rasional.[7]
Ø  filsafat itu sebuah ilmu yang digunakan untuk memperoleh kebenaran rasional. Metode yang digunakannya pun adalah metode rasional. Filsafat menghampiri kebenaran dengan cara menuangkan (mengembarakan atau mengelanakan) akal budi secara radikal (mengakar) dan integral (mengalami) serta universal (menyeluruh) tidak merasa terikat oleh ikatan apapun, kecuali oleh ikatan tangannya sendiri yang bernama logika.[8] Peranan filsafat sebagaimana dikatakan Socrates adalah berpegang teguh pada ilmu pengetahuan melalui usaha menjelaskan konsep – konsep.
Ø  ilmu tasawuf adalah ilmu yang lebih menekankan rasa daripada rasio. Oleh sebab itu, filsafat dan tasawuf sangat distingtif. Sebagai sebuah ilmu yang prosesnya diperoleh dari rasa, ilmu tasawuf bersifat sangat subyektif, yakni sangat berkaitan dengan pengalaman seseorang. Itulah sebabnya, bahasa tasawuf sering tampak aneh bila dilihat dari aspek rasio. Hal ini karena pengalaman rasa sangat sulit dibahasakan.

Di dalam pertumbuhannya, ilmu kalam (teologi) berkembang menjadi teologi rasional dan teologi tradisional. Filsafat berkembang menjadi sains dan filsafat sendiri. Sains berkembang menjadi sains kealaman, sosial, dan humaniora sedangkan filsafat berkembang menjadi filsafat klasik, pertengahan, dan filsafat modern. Tasawuf selanjutnya berkembang menjadi tasawuf praktis dan tasawuf teoritis.[9]
Dilihat dari aspek aksiologinya(manfaatnya),
Ø  Teologi berperan sebagai ilmu yang mengajak orang yang baru mengenal rasio untuk mengenal Tuhan secara rasional, sehingga Tuhan dapat dipahami secara rasional.
Ø  Filsafat lebih berperan sebagai ilmu yang mengajak kepada orang yang mempunyai rasio secara prima untuk mengenal Tuhan secara lebih bebas melalui pengamatan dan kajian alam dan ekosistemnya langsung. Dengan cara pengenalan Tuhan melalui filsafat, diharapkan orang yang telah mempunyai rasio sangat prima dapat mengenal Tuhan secara meyakinkan melalui rasionya.
Ø  Tasawuf lebih berperan sebagai ilmu yang member kepuasan kepada orang yang telah melepaskan rasionya secara bebas karena tidak memperoleh yang ingin dicarinya.
Sementara orang memandang bahwa ketiga ilmu itu memiliki jejnjang-jenjang tertentu. Jenjang pertama adalah ilmu kalam, kemudian ilmu filsafat, dan ilmu tasawuf. Oleh karena itu, suatu kekeliruan apabila dialetika kefilsafatan atau tasawuf teoritis diperkenalkan kepada masyarakat awam karena akan berdampak pada terjadinya  rational jumping(lompat pemikiran).

2.4 Titik Singgung antara Ilmu Kalam dan Ilmu Tasawuf
Ilmu kalam merupakan disiplin ilmu keislaman yang mengedepankan pembicaraan tentang persoalan – persoalan kalam Tuhan. Persoalan – persoalan kalam ini biasanya mengarah pada perbincangan yang mendalam dengan dasar – dasar argumentasi, baik rasional (aqliyah) maupun naqliyah. Argumentasi rasional yang dimaksudkan adalah landasan pemahaman yang cenderung menggunakan metode berfikir filosofis, sedangkan argumentasi naqliyah biasanya bertendensi pada argumentasi berupa dalil – dalil Qur’an dan Hadits. Ilmu kalam sering menempatkan dirinya pada kedua pendekatan ini (aqli dan naqli), suatu metode argumentasi yang dialektik. Jika pembicaraan ilmu kalam hanya berkisar pada keyakinan – keyakinan yang harus di pegang oleh umat Islam, tanpa argumentasi rasional, ilmu ini lebih spesifik mengambil bentuk sendiri dengan istilah ilmu tauhid atau ilmu aqa’id.[10]
Pembicaraan materi-materi yang tercangkup dalam ilmu kalam terkesan tidak menyentuh dzauq(rasa rohaniah). Sebagai contoh, Ilmu tauhid menerangkan bahwa Allah bersifat Sama`(Mendengar), Bashar(Melihat), Kalam(Berbicara), Iradah(Berkemauan), Qudrah(Kuasa), Hayat(Hidup), dan sebagainya. Ilmu Kalama tau ilmu tauhid tidak menjelaskan seorang hamba dapat merasakan langsung bahwa Allah mendengar dan melihatnya, bagaimana perasaan hati seseorang ketika membaca Al-Quran, dan bagaimana seseorang mersa bahwa segala sesuatu yang tercipta merupakn pengaruh dari Qudrah(kekuasaan) Allah?
Pertanyaan- Pertanyaan diatas sulit untuk dijawab dengan hanya melandaskan diri pada ilmu kalam atau ilmu tauhid. Biasanya, yang membicarakan tentang penghayatan sampai pada penanaman kejiwaan manusia adalah ilmu tasawuf. Disiplin inilah yang membahas cara merasakan nilai-nilai akidah dengan memerhatikan bahwa persoalan tadzawwuq(bagaimana merasakan) tidak hanya termasuk dalam lingkup hal yang sunnah atau dianjurkan, tetapi termasuk hal yang diwajibkan.
Pada ilmu kalam ditemukan pembahasan iman dan defiisinya, kekufuran dan manifestasinya, serta kemunafikan dan batasannya. Adapun pada ilmu tasawuf ditemukan pembahasan jalan atau metode praktis untuk merasakan keyakinan dan ketentraman, serta upaya menyelamatkan diri dari kemunafikan. Tidaklah cukup bagi seseorang yang hanya mengetahui batasan – batasannya. Hal ini karena terkadang seseorang yang sudah tahu batasan – batasan kemunafikan pun tetap saja melaksanakannya.

Dalam kaitannya dengan ilmu kalam, ilmu tasawuf berfungsi sebagai pemberi wawasan spiritual dalam pemahaman kalam. Penghayatan yang mendalam melalui hati(dzauq dan widjan) terhadap ilmu tauhid atau ilmu kalam menjadikan ilmu ini lebih terhayati atau teraplikasikan dalam perilaku. Denagan demikain, ilmu tasawuf merupakan penyempurnaan ilmu tauhid jika dilihat dari sudut pandang bahwa ilmu tasawuf merupakan sisi terapan rohaniah dari ilmu kalam.
Ilmu kalam berfungsi sebagai pengendali ilmu tasawuf. Oleh karena itu, jika timbul suatu aliran yang bertentangan dengan akidah, atau lahir suatu kepercayaan baru yang bertentangan dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah, hal itu merupakan penyimpangan atau penyelewengan. Jika bertentangan atau tidak pernah diriwayatkan dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah, atau belum pernah diriwayatkan oleh ulama’ – ulama’ salaf, hal itu harus di tolak.[11]
Selain itu, Ilmu tasawuf mempunyai fungsi sebagai pemberi kesadaran rohaniah dalam perdebatan – perdebatan kalam. Sebagaimana di sebutkan bahwa ilmu kalam dalam dunia Islam cenderung menjadi sebuah ilmu yang mengandung muatan rasional di samping muatan naqliyah. Jika tidak di imbangi oleh kesadaran rohaniyah, ilmu kalam dapat bergerak kearah yang lebih liberal dan bebas. Disinilah ilmu tasawuf berfungsi memberi muatan rohaniah sehingga ilmu kalam tidak di kesani sebagai dialektika keislaman belaka, yang kering dari kesadaran penghayatan atau sentuhan secara qabliyah (hati).
Bagaimanapun amalan-amalan tasawuf mempunyai pengaruh yang besar dalam ketauhidan. Jika rasa sabar tidak ada, muncullah kekufuran. Jika rasa sukur sedikit, lahirlah bentuk kegelapan sebagai reaksi. Begitu pula ilmu tauhid dapat memberi kontribusi Pada ilmu tasawuf. Sebagai contoh, Jika cahaya tauhid telah lenyap, akan timbul penyakit-penyaki kalbu, seperti ujub, congkak, riya`, dengki, hasud, dan sombong. Apabila manusia sadar bahwa Allah yang member, niscaya rasa hasud dan dengki akan sirna. Jika dia mengetahui kedudukan penghambaan diri, niscaya tidak aka nada rasa sombong dan membanggakan diri. Jika manusia sadar bahwa dia betul-betul hamba Allah, niscaya tidak aka nada perebutan kekuaasan. Jika manusia sadar bahwa Allahpencipta segala sesuatu, niscaya tidak aka nada sifat ujub dan riya`. Dari sinilah dapat dilihat bahwa ilmu tauhid merupakan jenjang pertama dalam pendakian menuju Allah(Pendakian kaum sufi).
Untuk melihat lebih lanjut hubungan antara ilmu tasawuf dan ilmu kalam, alangkah baiknya menengok paparan Al-Ghazali. Dalam bukunya yang berjudul Asma al-Husna, Al-Ghazali menjelaskan dengan baik persoalan tauhid kepada Allah, terutama ketika menjelaskan nama – nama Allah, materi pokok ilmu tauhid. Menurutnya nama Tuhan Ar-Rahman dan Ar-Rahim, pada aplikasi rohaniyahnya merupakan sebuah sifat yang harus diteladani. Jika sifat Ar-Rahman diaplikasikan, seseorang akan memandang orang yang durhaka dengan kelembutan bukan kekasaran, melihat orang dengan rahim, bukan dengan mata yang menghina, bahkan ia mencurahkan ke-rahim-annya kepada orang yang durhaka agar dapat diselamatkan. Jika melihat orang lain menderita atau sakit, orang yang rahim akan segera menolongnya.[12]Nama lain Allah yang patut di teladani ialah Al-Qudus (Mahasuci). Seorang hamba akan suci kalau berhasil membebaskan pengetahuan dan kehendaknya dari khayalan dan segala persepsi yang dimiliki binatang,[13]Dengan ilmu tasawuf, semua persoalan yang berada dalam kajian ilmu tauhid lebih bermakna, tidak kaku, tetapi lebih dinamis dan aplikatif.









BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
       Ilmu Kalam ialah Ilmu berisi alasan-alasan yang mempertahankan kepercayaan – kepercayaan iman dengan menggunakan dalil-dalil pikiran dan berisi bantahan terhadap orang-orang yang menyeleweng dari kepercayaan – kepercayaan aliran golongan salaf dan ahli sunnah.
       Kata filsafat berasal dari kata philo yang berarti cinta, dan kata sophos yang berarti ilmu atau hikmah. Dalam hubungan ini, Al-Syaibani berpendapat bahwa filsafat bukanlah hikmah itu sendiri, melainkan cinta terhadap hikmah dan berusaha mendapatkannya, memusatkan perhatian padanya dan menciptakan sikap positif terhadapnya. Untuk ini ia mengatakan bahwa filsafat berarti mencari hakikat sesuatu, berusaha menautkan sebab dan akibat, dan berusaha menafsirkan pengalaman – pengalaman manusia.
       Tasawuf dapat diartikan mencari jalan untuk memperoleh kecintaan dan kesempurnaan rohani. Selain itu dapat pula diartikan berpindah dari kehidupan biasa menjadi kehidupan shufi (yang di sucikan) yang selalu tekun beribadah dan jernih, bersih jiwa dan hatinya, ikhlas karena Allah SWT semata-mata.
       Di dalam pertumbuhannya, ilmu kalam (teologi) berkembang menjadi teologi rasional dan teologi tradisional. Filsafat berkembang menjadi sains dan filsafat sendiri. Sains berkembang menjadi sains kealaman, sosial, dan humaniora sedangkan filsafat berkembang menjadi filsafat klasik, pertengahan, dan filsafat modern. Tasawuf selanjutnya berkembang menjadi tasawuf praktis dan tasawuf teoritis.

3.2 Kritik & Saran
Demikian yang dapat kami paparkan mengenai materi yang menjadi pokok bahasan dalam makalah ini, tentunya masih banyak kekurangan dan kelemahannya, kerena terbatasnya pengetahuan dan kurangnya rujukan atau referensi yang ada hubungannya dengan judul makalah ini.


DAFTAR PUSTAKA

Nata, Abuddin. 2012. Metodologi Studi Islam. Jakarta : PT. RajaGrafindo Persada

Rozak, Abdul dan Anwar, Rosihan. 2007. Ilmu Kalam. Bandung : Pustaka Setia

Qisthi, Aqis Bil. 2004. Hakekat Tasawuf, Thoriqot dan Ma’rifat. Surabaya : Himma Jaya



[1] A. Hanafi, Theologi Islam (Ilmu Kalam), (Jakarta : Bulan Bintang, 1979), cet. III, hlm. 10
[2] Husain Bin Muhammad Al-Jassar, l-Hushun al-hamidiyah li al-Muhafadzah ‘Ala al- ‘Aqaid al-Islamiyah, (Bandung : Syirkah al-Ma’arif), hlm. 7
[3] Ibid., hlm. 7
[4] Omar Mohammad al-Toumy al-Syaibani, Falsafat Pendidikan Islam, (terj.) Hasan Langgulung dari judul asli Falsafat al-Tarbiyah al-Islamiyah, (Jakarta : Bulan Bintang, 1979), cet. I, hlm. 25

[5] Aqis Bil Qisthi, “Hakekat Tasawuf, Thoriqot dan Ma’rifat”, (Surabaya : HIMMAH JAYA, 2004), hlm.9
[6] Abdul Rozak dan Rosihan Anwar, “Ilmu Kalam”, (Bandung : Pustaka Setia, 2007), hlm, 39
[7] Philip Bob Cock Gove (ed). Webster’s third New International Dictionary of The English Language Uni Bridged. G & C Mervian Company Publisher, USA. 1966, hlm. 2371
[8] Anshari, op. cit., hlm. 173
[9]Abdul Rozak dan Rosihan Anwar, “Ilmu Kalam”, (Bandung : Pustaka Setia, 2007), hlm, 42
[10] Abdul Rozak dan Rosihan Anwar, “Ilmu Kalam”, (Bandung : Pustaka Setia, 2007), hlm,43

[11] Ibid, hlm, 46

[12] ] Al-Ghazali, Al-Maqhad Al-Asna Fi Syarh Al-Asma Allah Al-Husna, terj. Ilyas Hasan, Mizan, Bandung, 1996, hlm. 73-74
[13] Ibid, hlm. 80

Tidak ada komentar:

Posting Komentar